Senin, 13 Juli 2015

Senin, 13 Juli 2015

CERAMAH TARAWIH HARI SABTU 24 RAMADHAN 1436 H

CERAMAH TARAWIH HARI SABTU 24 RAMADHAN 1436 H
DARI MASJID AL AKBAR SURABAYA
(HARI SABTU, 11 JULI 2015)
Oleh
Prof.Dr.H.Imam Bawani,M.A.
(Guru Besar UINSA)
Ceramah Tarawiih Ini Disiarkan Langsung dari Ruang Utama Shalat di Masjid Al Akbar Surabaya, antara ba’da shalat isya dan qabla shalat tarawih.
Dipublikasikan pertama kali dalam bentuk tulisan di blog Masjid Al Hikmah Kebonsari Surabaya, Surabaya, Jawa Timur, Indonesia pada hari Senin, 13 Juli 2015

(Maaf saudara muslim, ceramah ini tidak diringkas oleh Admin, kami menampilkan ucapan aslinya. Ada beberapa istilah jawa yang terselip dalam ceramah ini. Bila ada saudara muslim di luar jawa yang tidak paham bahasa jawa kiranya kami mohon maaf)
======================================
THE SWEETNESS OF THE FAITH
MANISNYA IMAN
======================================
Hadirin hadirat sekalian yang namanya manisnya iman (halaawatul iimaan dalam bahasa arab) ini ada dua kata kunci.
Apa itu manis?
Sebab manis itu saaangat relatif tetapi ada ukuran juga. Bahkan mungkin ya manisnya iman itu harus disertai dengan pahitnya kehidupan. Jadi, bisa terjadi memang manisnya iman itu berimbang dengan pahitnya kehidupan.tetapi tidak mutlak lho ya bahwa kehidupan yang pahit pasti imannya manis, belum tentu
Yang kedua: iman itu definisinya simple.
Aqdun biljinnan, qoulun billisan, wa ‘amalun bil arkan.
Jadi, tiga dimensi. Diyakinkan di dalam hati, diucapkan melalui lisan, dan diwujudkan dengan amal perbuatan. Kalau salah satunya nggak ada bukan iman.

Karena itu marilah kita hayati ayat dari rangkaian yang terkait ramadhan, di ujungnya mengatakan:
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
وإذا سألك عبادي عني فإني قريب أجيب دعوة الداع إذا دعان فليستجيبوا لي وليؤمنوا بي لعلهم يرشدون
A’uudzu billaahiminasy syaithaanirrajiiim.
Wa idza sa alaka ‘ibaadii ‘anniy fa innniy qoriiib.
Ujiibu da’wataddaa’i idzaa da’aan.
Fal yastajiibuu liy wal yu’minuu biy la’allahum yarsyuduun.
Muhammad, bila hambaku bertanya kepadamu tentang diriku, tentu konteksnya pada saat-saat akhir ramadhan ini, katakan aku ini saaangat dekat (fa inniy qoriib).
Ujiibu da’wataddaa’i idzaa da’aan. Akan aku kabulkan seluruh permohonan permintaaan doanya bila memang berdoa.
Tetapi fal yastajiibu lii, beresi dulu secara tuntas kewajibannya, apa itu?
Yang belum kita lakukan adalah zakat fitrah nanti. Di samping tentu kalau kita memiliki kelebihan harta, masyaa allah ya, infaq shodaqoh kepada orang-orang yang memerlukan pada hari-hari terakhir ini luar biasa manfaat dan pahalanya.
Karena itu marilah kita hiraukan supaya kita termasuk kerangka dari firman Allah tadi
Kalau hambaku bertanya  katakanlah diriku saaaangat dekat mungkin ya lailatul qadr juga sehingga kita tekun ibadah kemudian kedekatan diri kita kepada Allah insya allah menjadi nyata. Kalau namanya sudah dekat permintaan apapun akan dikabulkan.
Dan hidup ini penuh misteri,
Terus terang ya sesuatu yang kita kejar secara lahir, kadang-kadang BLONG....., MBLESE.…
Tetapi sesuatu yang nggak kita duga-duga tahu-tahu justru di situlah kita memperoleh kemudahan, kenikmatan, keberuntungan.
Karena itulah mari kita sadari tidak seluruhnya rasional, tetapi bahwa rasional harus usaha ya, tetapi ada bagian-bagian tertentu dimana justru dibalik-balik yang tidak diusahakan akan muncul sesuatu yang bermanfaat buat kita, dari mana?  Kuncinya tetep taqwallaah.
ومن يتق الله يجعل له مخرجا ويرزقه من حيث لا يحتسب
Wa man yattaqillaaha yaj’allahu makhraja
Wa yarzuqhu min haitsu laayahtasib
Barang siapa sungguh-sungguh bertaqwa kepada allah, allah akan menjadikan baginya pintu jalan keluar yang tidak pernah diduga dan akan memberikan rezeki tanpa disangka-sangka. Itulah kuncinya.

Tetapi lagi-lagi kalau ditanya definisinya taqwallaah dihubungkan dengan manisnya iman itu kayak apa?
Nggak apa-apa. Kenapa?
Kita masih punya tanggung jawab kok. Di saat bulan Ramadhan ini pengamatan kita yang bisa puasa itu cenderung orang-orang yang ekonominya relatif baik
Mereka-mereka yang ekonominya itu susah ya pak ya.
Kalau di desa: harus mencangkul, membajak, menebang tebu.
Kalau di kota: mungkin ngecor aspal, ngudheg luluh,
Berat pak.
Pengamatan kita: mereka-mereka itu puasa apa itu memang kerja, begitu hari Kemis berhenti.
Nggak kerja memang karena puasa pertama kali, mudah-mudahan puasalah di rumah. Semuanya masuk ke tempat kerja cuma minta kopi, minum dia. Kenapa? Nggak kuat kok pak kami puasa, pekerjaan kami beratnya begini ini pak, ngecor pak, ngudheg luluh, puuanas  pak. Kalau lapar masih tertahan tetapi hausnya nggak mungkin pak.
Karena itu
Pertanyaaannya gimana? Di dalam hukum islam mereka-mereka yang memang sangat beratnya seperti itu hakekatnya bisa diganti puasanya di tempat lain dengan membayar fidyah contohnya wanita hamil tua yang gak mungkin puasa. Dia bisa membayar fidyah sebatas keperluan makan tiap orang, tetapi pertanyaannya bagaimana mungkin mbayar fidyah wonk untuk dimakan dan tabungan hari raya saja nggak ada, maka berarti kan apes ya orang ini.
Sudah di dunia kerja keras nggak bisa mengamalkan syariat agama. Apa kita lalu mengatakan udah biar saja mereka. Semakin buaanyak mereka-mereka itu kan nanti kan masuk neraka semua. Kalau yang masuk neraka banyak akhirnya surganya kan longgar kaplingannya.
Yo jangan begitu ya. Tidak ada di dalam islam pendangan itu ya.
Kenapa demikian?
Karena memang iman itu tidak bisa disertai semata-mata paham seperti itu. Allah Mahatahu, tetep dimintai pertanggungjawaban.
Kullukum rooin wakulllukum mas uulun ‘an ro’iiyatihi
Semua kalian itu pemimpin dan kalian akan dimintai pertanggunjawaban di akhirat.
Cuma yang paling berat tanggung jawabnya itu top leader di suatu negara, berat.
Kalau bisa mengusahakan sebelas bulan kerja keras, satu bulan kerja yang tidak terlalu membutuhkan tenaga sehingga orang-orang seperti itu bisa ikut puasa.
Masya allah,
Kalau ada pemimpin yang bisa menguasahakan begini masya allah, jalan menuju ke surga itu sangat dekat.
Bagi kita bisa, misalnya seorang kontraktor. Waduh kalau ngecor siang berat ini saya cor saja malam disertai lampu, yang penting professional kualitas gak berkurang, supaya malam kerja besok siangnya bisa istirahat. Ya allah kalau ada orang seperti ini dan tidak mengganggu kualitas kerja. Inilah jalan keluar yang terbaik.
Kenapa sebab.
Iman itu kalau diwujudkan perbuatan ya seperti itu. Tidak bisa beragama itu lalu mengatasnamakan iman sama sekali ndak mau kerja nggak punya kontribusi kepada umat dan bangsa, ndak bisa.
Sebab kalau kita lihat sepuluh orang yang dijamin Rosul masuk surga itu kita lihat semuanya pejuang. Ada yang berjuang dengan hartanya, dengan jiwanya, darah, air matanya untuk kejayaan islam.  Tidak bisa orang semata-mata hanya wiriiiid thok, ndak peduli kanan kiri, bahkan tidak peduli fakir miskin, ndak peduli madrasah yang reyot, ndak peduli sekolah islam yang morat-marit, lalu dia ingin mendapatkan halaawatul iman (MANISNYA IMAN), tidak mungkin.
Atas dasar itu marilah kita manfaatkan sebaik-baiknya sisa waktu yang hanya satu dua hari ini untuk kita komplitkan ibadah kita.
Insya allah hanya tinggal beberapa hari puasa kita. Mudah-mudahan tidak ada halangan tidak ada hambatan
Taraweh kita kita lengkapi, yang belum khatam Al Quran dan ingin khatam mangga segera dikhatamkan dan marilah kita siap-siap menyantuni fakir miskin yang juga menjadi tanggung jawab kita.
Demikianlah mudah-mudahan bermanfaat..
إهدنا الصراط المستقيم
Ihdinashshiraatal mustaqiiim.

======================================
======================================

Sekian ceramah tarawih 1436 H di Masjid Al Akbar Surabaya yang disampaikan oleh Prof.Dr.H.Imam Bawani,M.A. sebagai kopian asli tanpa editing oleh Admin,
Terima kasih atas perhatiannya,
Terima kasih atas kunjungannya,
Terima kasih juga kepada Blogger dan Timnya yang telah mewadahi tulisan ini.
Terima kasih juga kepada Facebook dan Timnya yang telah menyebarkan tulisan ini.
Salam Ramadhan 1436 H,

Admin,