Ucapan salam
Assalaamu’alaikum.
Apa kabar semua saudara muslim di seluruh dunia?
Kami Admin menyampaikan salam perdamaian dan salam ukhuwah
kepada semua saudara muslim khususnya yang berada di Malaysia, karena sampai
tahun 1436 H (2015) mayoritas teman facebook Masjid Al Hikmah Kebonsari
Surabaya adalah saudara muslim di Malaysia mulai dari yang masih sekolah dasar
sampai yang sudah menjadi professor (guru besar) dan masjid-masjid di Malaysia
di bawah naungan pemerintah malaysia sudah lama berteman dengan facebook Masjid
Al Hikmah Kebonsari Surabaya kita perkuat tali ukhuwah islamiyyah, jangan ada
cerai berai di antara kita.
Kami Admin juga menyampaikan salam perdamaian buat semua
pengunjung blog Masjid Al Hikmah Kebonsari Surabaya baik yang muslim maupun non
muslim. Spesial salam persahabatan dan salam perdamaian kami sampaikan kepada pengunjung
yang paling mendominasi kunjungannya hingga tahun 2015 berturut-turut mulai
pengunjung terbanyak adalah Amerika Serikat, Rusia, Malaysia, Jerman, India, Korea
Selatan, Ukraina, China, Inggris. Semoga pengunjung yang non muslim mendapat
pencerahan dari tulisan kami dan mendapatkan kemudahan dalam memilih jalan yang
diridhai Allah SWT.
Terima kasih atas kunjungannya.
Pembedahan
==================================
KEKISRUHAN BESAR KHUTBAH
IDUL FITRI 1436 H (JUMAT 17 JULI 2015) TELAH DILAKUKAN OLEH Prof. Dr. H.
MUDJITA RAHARDJO, M.SI. DI MASJID AL AKBAR SURABAYA,
===================================
Tema: Mensyukuri Nikmat
Kebebasan Insani.
Khatib (orang yang
berkhutbah): Prof. Dr. H. Mudjita Rahardjo, M.Si. (Guru Besar Universitas Islam
Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang).
Hari, tanggal: Jumat,
17 Juli 2015 (Jumu’ah, 1 Syawwal 1436 H).
Tempat : Masjid Al Akbar
Surabaya (Masjid Nasional Al Akbar Surabaya).
Catatan Khutbah Asli :
Ada, tercantum di bagian paling bawah.
Durasi : Alokasi waktu
khutbah tidak disebutkan MC, tetapi ini tidak masalah. karena waktu tidak
dibatasi, bisa agak lama, bisa lama, karena memang khutbah ini pada hari libur
nasional. Hari libur nasional ini memang untuk mengikut khutbah idul fitri.
Waktu : Pagi hari.
Isi : Isi
khutbah kurang begitu terkait dengan tema.
Kelengkapan : Uraian
khutbah tidak lengkap, terlalu melebar yang tidak tepat sasaran. Miskin
contoh-contoh sederhana, miskin dalil yang berkaitan dengan tema, miskin dalil
yang berkaitan dengan statement khatib.
Ayat Al Quran : Cuma
sedikit mendukung tema. Khatib tidak bisa melafalkan ayat suci Al Quran secara
fasih.
Al Hadits : Ada
sedikit tapi tidak mendukung tema.
Contoh sehari-hari
terkini: Tidak ada.
Contoh sehari-hari
lawas : Tidak ada.
Contoh sehari-hari
dari para sahabat rasul : Tidak ada.
Bahasa: Menggunakan Bahasa
Indonesia Informal. Bahasa yang disampaikan agak sulit dipahami. Ada sebuah
kalimat menggunakan majas personifikasi namun tidak mendukung tema. Bahasa Arab
yang digunakan oleh khatib tampak jelek.
Keterkaitan : “masih membingungkan”.
Kupasan admin:
Admin memandang bahwa terlalu panjang lebar pengantar khutbah di
bagian awal khutbah I sehingga terasa khutbah begitu panjang dan lama padahal
sesungguhnya inti dari khutbahnya cuma diuraikan sekilas, lagi pula inti
khutbah cuma sebagian besar berupa statement yang bersifat umum dan teoritis
yang akhirnya menimbulkan banyak penafsiran dan pertanyaan, padahal kalau
diuraikan lebih detail atau lebih mendalam tema “Mensyukuri Nikmat Kebebasan Insani”
jauh lebih menarik dan bermanfaat ketika dikaitkan dengan keadaan nyata dan
isu-isu terbaru yang berlangsung saat itu di Surabaya, di Jawa Timur, atau di Indonesia.
Di awal khutbah I khatib (orang yang berkhutbah, dalam hal ini Prof.Dr.H.
Mudjita Rahardjo) mengatakan begini: “…seperti
tahun-tahun hijrah sebelumnya…”. Akibat pengucapan hijriyyah terlalu cepat,
kata “hijjriyyah” menjadi kedengaran “hijrah”.
Admin bersikap tegas sebaiknya kata-kata “tahun hijrah” yang diucapkan oleh Prof.Dr.H. Mudjita Rahardjo harus
diganti dengan istilah “tahun hijriyyah”.
Secara umum di Indonesia para muslimin sudah menggunakan penyebutan tahun yaitu tahun hijriyyah dan tahun masihiyyah
(miladiyah).
Selain itu, khatib mengucapkan begini “………sedangkan dalam surah Al A’rad.23-24 disebutkan sebagai berikut
bismillaahirrahmaanirrahiiim jannaatu adnin yadkhuluhaa wa man shalaha min
aabaaihim wa azwaajihim wa dzurriyaatihim……….”. Admin memandang bahwa
khatib melakukan kesalahan dalam penyebutan Surah Al A’rad ayat 23-24, padahal
setelah admin cek di Al Quran yang benar adalah Al Quran Surah Ar Ra’d (Arra’di)
ayat 23-24. Pengucapan yang benar adalah Arra’du
atau Arra’di.
Selanjutnya perhatikan ucapan khatib berikutnya: ”…kini marilah bersama-sama kita mencermati
sejumlah kekhususan manusia dibanding makhluk lain agar semakin dalam kita
mengenali diri kita ini sesungguhnya siapa, agar semakin jelas betapa istimewa
tetapi juga sangat rawan kedudukan kita sebagai manusia, juga agar semakin kuat
kehendak kita untuk senantiasa bersyukur atas nikmat Allah yang diberikan
kepada kita sekalian.”
Admin memandang bahwa terlalu berlebihan kalau dikatakan dengan
mencermati kekhususan pada diri manusia lalu serta merta cepat-cepat mengungkapkan
“agar semakin kuat kehendak kita untuk
senantiasa bersyukur atas nikmat allah yang diberikan kepada kita sekalian “.
Banyak manusia di Jawa Timur jauh lebih tahu kekhususan dirinya yang mana
pengetahuan tentang kekhususan dirinya sudah diajarkan oleh para guru di
sekolah mulai madrasah mulai level ibtidaiyyah hingga aliyah, yang tentunya
banyak dikupas baik melalui pelajaran Agama Islam, Biologi, maupun pelajaran Pancasila
dan kewarganegaraan atau ilmu sosial kemasyarakatan lainnya. Sementara khatib
hanya membeber kekhususan yang terjadi pada manusia dan hewan cuma satu aspek
yaitu dorongan biologis. Bahkan banyak para ilmuwan atau saintis yang lebih
mengetahui kekhususan dirinya melalui bedah keilmuan yang tidak diragukan lagi
keilmuannya ternyata masih saja tidak pandai bersyukur (qaliilan min
‘ibaadillaaahisysyakuur)..
Lebih lanjut, khatib menyebut “sejumlah kekhususan”, sejumlah kekhususan yang dimaksud khatib itu
meliputi apa saja? Bilangnya sejumlah kekhususan tapi kok cuma yang disebutkan
hanya “kepandaian manusia dalam mengendalikan
dorongan biologisnya, memilih beriman, dan memilih profesi”. Mestinya khatib menguraikan kekhususan
manusia dikaitkan dengan macam-macam kebebasan. Sehubungan dengan macam-macam
hurriyah dan macam-macam ikhtiyar, maka contoh kekhususan lainnya apa? Nggak
disebut loh. Andai disebut dalam khutbah pastilah isi khutbah ini lengkap dan
bisa mendukung tema yang diangkatnya.
Selanjutnya khatib mencoba menggunakan gaya bahasa personifikasi
dengan menyebutkan ” …kebebasan
senantiasa bermata dua…”, Upaya khatib dalam mempersonifikasikan
ungkapannya untuk membumbui khutbahnya agar terkesan enak didengar malah
menjadi tidak konsisten, ada kontradiksi dengan pernyataan sebelumnya yaitu “…pemikiran islam kebebasan manusia (yang
dimaksud khatib adalah juga diungkapkan dengan istilah ikhtiyar. Berbeda sangat
mencolok dari pemikiran barat (memiliki dan menguraikan pengertian freedom,
independence, dan liberty)…”,
Di awal khatib menyatakan bahwa kebebasan dalam pemikiran islam
(berupa hurriyah dan ikhtiyar, hurriyah berupa kuasa memilih sejumlah pilihan
(banyak pilihan) dan tidak adanya rintangan pihak luar bagi manusia untuk
melakukan sesuatu, ikhtiyar berupa kebaikan atau khair), ternyata disanggah
oleh khatib sendiri dalam pernyataan berikutnya “kebebasan senantiasa bermata dua”. Apakah maksud ungkapan
kebebasan senantiasa bermata dua itu gambaran dari dua hal dikotomi yaitu
kebaikan dan keburukan? Ataukah maksudnya ada dua golongan besar yaitu
pemikiran barat yang mengarah keburukan dan pemikiran islam yang mengarah
kebaikan? Ataukah memang kebebasan itu tersusun dari dua hal yaitu hurriyah dan
ikhtiyar? Ataukah kebebasan yang bertanggung jawab dan tidak bertanggung jawab
itu hadir pada diri manusia? Atau apakah kebebasan itu tersusun dari dua hal “berbatas
dan tanpa batas”? Khatib tidak menyebutkan keunggulan pemikiran islam tentang
kebebasan, malahan khatib lebih sibuk memerinci jenis-jenis kebebasan
(macam-macam kebebasan) tanpa memberikan definisi yang pasti. Barangkali khatib
bermaksud lebih melanggengkan pemikiran barat? Admin melihat Al Quran dan As Sunnah
bahwa kebebasan yang dimaksudkan adalah kebebasan untuk mengarahkan manusia
kepada kebaikan karena manusia terlahir ke dunia tidak lain hanya berkewajiban
untuk kebaikan di dunia, karena kebaikan yang dilakukan inilah merupakan ibadah
yang wajib dikerjakan sebagai wujud liya’buduun.
Begitupula, admin memandang bahwa khatib hanya menyebutkan dua
dalil Al Quran yang berkaitan dengan kebebasan untuk memilih beragama hurriyah
addiniyyah, tetapi untuk jenis-jenis kebebasan yang lainnya antara lain
hurriyah annafsi, hurriyah assyahsiyah, hurriyah addhomiir, hurriyah al
adabiyah, kesemuanya tidak ditunjukkan dalilnya dari Al Quran atau As Sunnah.
Bayangkan khatib begitu nyerocos lihai melafalkan jenis-jenis hurriyah tetapi
tidak disebutkan contoh sederhananya dan dalilnya, bahkan ulasan sekilas pun nggak
ada, apakah jama’ah shalat Idul Fitri 1436 H Masjid Al Akbar Surabaya paham?
It’s impossible. It’s very difficult to understand for Moslems who have finished
doing eid al fithr prayer in Al Akbar Mosque.
Admin menduga bahwa jama’ah shalat Idul Fitri 1436 H Masjid Al
Akbar Surabaya tidak paham dengan maksud khatib karena mayoritas jamaah shalat
Idul Fitri 1436 H Masjid Al Akbar Surabaya adalah masyarakat menengah ke bawah
baik dalam hal ekonomi dan pemikirannya yang berkaitan dengan hal tersebut.
Kita mengetahui bahwa jama’ah shalat Idul Fitri 1436 H Masjid Al Akbar Surabaya
sangat membludak mencapai puluhan ribu dengan level kecerdasan yang sangat
beragam mulai level sangat rendah sampai level sangat tinggi dan mayoritasnya
adalah jama’ah dengan kecerdasan dan pengetahuan level sedang sampai ke level
bawah (level sangat rendah).
Lebih jauh lagi perhatikan ucapan khatib berikut:
“…kebebasan
senantiasa bermata dua yang bila dipahami dan digunakan secara bertanggung
jawab akan menghasilkan kebaikan dan akan menghasilkan keburukan bila digunakan
secara tidak bertanggung jawab sehingga muncul berbagai aliran akhir-akhir ini
yang justru membingungkan umat islam itu sendiri.”
Admin memandang ucapan khatib tidak fair karena tidak disertai
contoh sederhana yang berupa keadaan nyata akhir-akhir ini, padahal khatib
jelas-jelas menyebutkan “……aliran akhir-akhir
ini yang justru membingungkan umat islam itu sendiri……….” Aliran yang mana?
Harusnya ucapan itu dikaitkan dengan kebebasan insani, lalu kaitkan dengan tema
nikmat kebebasan insani agar kita tahu bahwa apakah kebebasan insani ini nikmat
atau azab?
Aliran akhir-akhir ini yang justru membingungkan umat islam itu
sendiri harus diungkap walau sekilas agar jamaah yang hadir (juga termasuk di
dalamnya personel MUI, POLRI, dan TNI) dapat mendengar paparan khatib. Ucapan
khatib akan lebih jelas ketika dikaitkan dengan macam-macam kebebasan sehingga
tampak jelas macam kebebasan yang mana yang kerap memunculkan kerawanan
masyarakat manakala kebebasan insani tidak disandarkan pada Al Quran dan As Sunnah.
Di bagian ini harusnya khatib menguraikan macam kebebasan mana yang sering
dilanggar jamaah shalat Idul Fitri 1436 H Masjid Al Akbar Surabaya dan macam
kebebasan mana yang sering dilaksanakan jamaah shalat Idul Fitri 1436 H Masjid
Al Akbar Surabaya. Inilah fungsi khutbah di hadapan jamaah shalat, membeber sesuatu
yang tidak sesuai dengan syariat islam agar tahu bahwa sesuatu yang tidak
sesuai dengan syariat islam itu bakal mengakibatkan fasaad fil ardhi,untuk
berikutnya jamaah tidak melakukannya, lalu ditunjukkan dalilnya sehingga jamaah
shalat mendapat tambahan ilmu dan tambahan wawasan dari khatib.
Admin sangat khawatir jangan-jangan persepsi khatib selama ini
salah dalam mencermati aliran-aliran yang ada di Indonesia akhir-akhir ini
sehingga suatu aliran yang sudah mapan menurut Al Quran dan As Sunnah dipandang
sebagai aliran yang membingungkan umat hanya karena kurangnya perangkat
keilmuan khatib dalam mencermatinya. Ini harus diperjelas…!!!
Lebih mendalam lagi kita membedah ucapan khatib yang lain
berikut ini:
“…banyak contoh
bisa diamati setelah menggunakan kebebasan memeluk islam dengan membaca dua
kalimah syahadat tidak senantiasa diikuti dengan memeluk islam secara
menyeluruh atau kaaffah sehingga terjerumus dalam kefasikan.”
Admin memandang bahwa ucapan ini masih sekedar teoritis yang
bersifat umum, perlu diperjelas dengan contoh nyata yang sederhana, mestinya
harus disertai contoh aktual akhir-akhir ini agar ucapan tersebut
berkesinambungan dengan “…munculnya
aliran akhir-akhir ini yang membingunkan umat islam…” dan bisa menjadi
penguat statement-nya. Khatib menyatakan “banyak
contoh” berarti dengan mudah khatib bisa menyertakan satu contoh sebagai
penguat statement-nya, kok malah justru tidak ada contoh sama sekali. Apa saja
contohnya, kok bisa-bisanya khatib mengatakan “banyak”?
Mari kita perhatikan 2 ucapan khatib yang berdekatan:
1. “banyak contoh bisa
diamati setelah menggunakan kebebasan memeluk islam dengan membaca dua kalimah
syahadat tidak senantiasa diikuti dengan memeluk islam secara menyeluruh atau
kaaffah sehingga terjerumus dalam kefasikan.”.
2.”Juga banyak contoh
betapa manusia tidak mampu menjaga kehormatan dirinya dengan mengucapkan dua
kalimat syahadat tetapi hati dan perilakunya lebih mendekati kaum kafir hingga
terjerumus dalam kemunafikan.”.
Admin memandang bahwa dua ucapan yang berdekatan ini justru
menimbulkan pertanyaan besar. Admin ingin tahu hati dan perilaku yang mana yang
dikatakan lebih mendekati kaum kafir? Apa maksudnya khatib menyertakan ucapan
ini dalam khutbahnya sehubungan tema mensyukuri nikmat kebebasan insani? Apakah
ucapan ini mendukung tema ini, admin pikir tidak begitu mendukung tema khutbah.
Berdasarkan dua ucapan yang kita simak tersebut ternyata khatib shalat
Idul Fitri 1436 H Masjid Al Akbar Surabaya tidak sanggup menguraikannya dan
memberikan contoh nyata sekitar kehidupan jama’ah masjid al akbar atau
kehidupan masyarakat Jawa Timur.
Admin memandang bahwa khatib seneng banget mengobral statement
yang bersifat negatif, namun tidak diiringi contoh negatif yang terjadi di
masyarakat. Ketika khatib menyertakan statement negatif serta merta khatib
harus menunjukkan statement positifnya atau solusinya agar kejadian-kejadian
negatif di masyarakat sebagaimana yang dimaksud dalam statement negatifnya
tidak berkelanjutan di waktu mendatang, justru inilah yang dibutuhkan para
jama’ah shalat idul fitri yang tergabung di antaranya para polisi, para pamong,
para satpol pp, para militer, dan para pengambil kebijakan yang berkaitan
dengan statement negatifnya. Karena solusi dari seorang professor sangat
dibutuhkan oleh beliau untuk dijadikan bahan tambahan referensi solusi.
Kenyataannya khatib hanya gembar-gembor doank, gembar-gembornya penuh
kehampaan. Benar-benar tidak fair….!!!!!!!!!
Selanjutnya kita simak ucapan khatib berikut: “sebagai konsekuensi logis syahadat kita
dengan menunaikan segala kewajiban sebagai umat muslim” ada kesalahan dalam
penyebutan “kita” yang diiringi kata “umat muslim”, semestinya di awal
disebutkan kata “kita “ berikutnya
harus disebutkan “kaum muslimin” biar
nggak amburadul bahasanya, gak morat-marit bahasa indonesianya maupun bahasa
arabnya. Camkanlah baik-baik:
1.umat islam bukan
“umat muslim”.
2.kaum muslimin bukan
“kaum muslim”.
Istilah “muslim”
berasal dari bahasa arab yang bermakna seorang laki-laki beragama islam. “muslimiin” merupakan bentuk jamak
mudzakkar saliim pada posisi nashab dan jar, sedangkan “muslimuun” bentuk jamak mudzakkar saliim pada posisi rafa’, baik “muslimiin” maupun “muslimuun” bermakna sama yaitu orang-orang laki-laki yang memeluk
islam. “muslim” memiliki akar kata
dari fi’il madhi “aslama”, bila di-tashrif ishtilahiy menjadi “aslma yuslimu islaaman wa muslaman fa huwa
muslimun wa dzaaka muslamun aslim laatuslim muslamun muslamun” yang
mengikuti wazan af’ala yuf’ilu
(tashrif ishtilahiy:“af’ala yuf’ilu
if’aalan wa muf’alan fa huwa muf’ilun wa dzaaka muf’alun af’il laatuf’il
muf’alun muf’alun”. Kemudian Aslama
memiliki akar kata fi’il madhi Salima.
Salima bila di-tashrif ishtilahiy
menjadi Salima yaslamu salaaman(salaamatan)
wamaslaman fahuwa saalimun wadzaaka masluumun islam laataslam maslamun maslamun
yang mengikuti wazan fa’ila yaf’alu (tashrif
ishthilahiy:Fa’ila yaf’alu fa’lan
wamaf’alan fahuwa faa’ilun wadzaaka maf’uulun if’al laataf’al maf’alun maf’alun).
Dalam aplikasinya bila yang hadir adalah sejumlah banyak jamaah
perempuan dan laki-laki, maka gunakan saja “muslimiin”
untuk khutbahnya, maka isim jamak mudzakkar saliim harus dimenangkan untuk
pemakaian penyebutan istilah kepada seluruh yang hadir baik laki-laki maupun
perempuan. Dalam khutbahnya, khatib merujuk ke seluruh jamaah shalat, untuk
menyeru menunaikan segala kewajiban.
Berikutnya perhatikan dua ucapan berdekatan ini:
1.”Juga banyak contoh
betapa manusia tidak mampu menjaga kehormatan dirinya dengan mengucapkan dua
kalimat syahadat tetapi hati dan perilakunya lebih mendekati kaum kafir hingga
terjerumus dalam kemunafikan”.
2. “sebagai konsekuensi
logis syahadat kita dengan menunaikan segala kewajiban sebagai umat muslim”
Dua ucapan tersebut nampak tidak konsisten, pada ucapan 1 khatib
menyebut “dua kalimat syahadat”,
sedangkan pada ucapan 2 khatib menyebut “syahadat”
dengan entengnya khatib membuang kata-kata “dua
kalimat”.
Pada akhir khutbah I khatib mengucapkan begini ”… khususnya menyangkut dosa dan kesalahan
antar sesama manusia hanya terampuni bila sudah saling diikhlaskan satu sama
lain……..”
Admin memandang bahwa sebaiknya ucapan “diikhlashkan satu sama lain” sebaiknya diganti dengan “saling memaafkan satu sama lain”
Ketidakkonsistenan khatib juga tampak pada saat menyebutkan istilah “surga dan pakaian sutra” yang tidak
dibacakan ayat Al-Qurannya, padahal sebelumnya ayat Al Quran juga dibacakannya.
Kesalahan penyebutan “propinsi
jawa timur ini.” juga di lakukan khatib di akhir khutbah I. Pemerintah Provinsi
Jawa Timur secara resmi sudah menggunakan istilah “Provinsi Jawa Timur”.
Sekarang istilah “propinsi”
sudah berubah menjadi “provinsi”.
Pembedahan mengenai bahasa
arabnya Prof. Dr. H. Mudjita Rahardjo.
1.kesalahan besar pada nahwu sharaf level dasar:
Allaahummaghfirlanaa
wa li waalidiinaa
Warham humaa
kamaa rabbayaniy shagiiraa,
Waalidiina merupakan isim yang di-jar-kan oleh harf jar li.
Humaa sebagai dhamir (kata ganti) untuk dua orang.
Niy pada rabbayaaniy dhomir untuk orang yang berbicara.
Bentuk jamak (plural) “Waalidiin”
dan “waaliduun” berasal dari bentuk
mufrad (singular) “waalidun”
Di bagian humaa kamaa
rabbayani shagiiraa tidak sesuai dengan wa
li waalidiinaa. Kesalahan besar telah dilakukan oleh khatib (orang yang
khutbah).
Waalidiiina menunjukkan jamak (merujuk ke banyak orang tua) tetapi pada saat
warham justru diikuti huma (yang merujuk ke dua orang) mestinya wajib
menggunakan “hum” untuk mengimbangi waalidiina, lalu kamaa rabbayaani shaghiira tidak sesuai dengan waalidiina, mestinya wajib menggunakan rabbauna shighaara, sehingga doa selengkapnya menjadi “Allaahummaghfirlanaa wa li waalidiinaa
Warham hum kamaa
rabbawnaa shighaara”.
Doa yang sudah direvisi admin ini sangat cocok untuk para imam
atau khatib yang berdoa buat dirinya dan seluruh jamaah.
Penyebutan Al Addiniyyah
juga suatu kesalahan besar dilakukan khatib. Akar kata dari al addiniyyah adalah diinun atau diinin atau diinan,
perhatikan diinun atau diinin atau diinan dalam suatu kalimat dipandang
sebagai isim nakirah, lalu diinun berubah menjadi diiniyyah, supaya menjadi
isim makrifah diiniyyah dibubuhi awalan al
sehingga dibaca ad diiniyyah. Addiiniyyah
dalam kaidah bahasa arab tidak bisa dibubuhi awalan al karena tidak diperbolehkan membubuhkan awalan al dua kali berturut-turut berjajar.
Awalan al menyatu dengan diin yang ketika dilafalkan awalan al luluh menjadi ad dalam suaranya walau dalam tulisannya masih al ini karena pengaruh pelafalan yang kalau dijelaskan dengan
kaidah tajwid akan gamblang menggunakan
idgham syamsiy, dal termasuk
golongan huruf-huruf syamsiyah, Ketika huruf-huruf syamsiyah termasuk di
dalamnya dal diawali dengan al tentu pengucapan al menjadi hilang.
Khatib juga salah menyebut Al
Ra’d. Walaupun dalam tulisan arab al terlihat jelas mendahului ra, pengucapan al luluh menjadi r karena al bertemu
denga ra yang mana ra adalah huruf
yang tergabung dalam huruf-huruf syamsiyah sehingga pengucapan al ra’du haruslah arra’du.
Pelafalan Baarakallaahu
dilafalkan pendek pada bagian baa
oleh khatib. Khatib memendekkan baa padahal
ini sangat berbahaya ketika wazan fi’il faa’ala
dibaca fa’ala. Beda kan?
Baarakallaahu harus dibaca panjang untuk baa-nya.
Baaraka mengikuti wazan fi’il faa’ala bukan wazan fi’il fa’ala. Dalam kaidah sharaf Fa’ala berbeda dengan Faa’ala.
Solusi untuk kesalahan 1 yang ditawarkan Admin:
Khatib harus belajar sharaf level dasar karena permasalahan
tersebut hanya berkisar pada penguasaan bahasa arab bidang sharaf level
ibtidaiyyah, cukup gampang mempelajari sharaf yang berkaitan dengan dhamir dan
fiil, satu bulan intensif sudah bisa dikuasai, apalagi kalau khatib lulusan
madrasah aliyah tentulah cukup satu minggu saja untuk mencermati susunan
kalimatnya apakah antara dhamir dan fiil dalam jumlatun-nya sudah ada
kesesuaian atau belum, tidak sampai berbulan-bulan
Tempat belajar nahwu sharaf: di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel
(UINSA), walaupun admin bukan lulusan sarjana UINSA, bukan lulusan magister UINSA,
atau bahkan bukan pula lulusan doktoral UINSA, setidaknya admin tahu persis
keberadaan pusat belajar bahasa arab yang memadai sudah tersedia di UINSA. Admin
pikir untuk sekelas Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bisa mengakses keberadaan
pusat pembelajaran bahasa arab UINSA dengan mudah dan cepat. Jarak Malang–Surabaya
sangat dekat ketimbang jarak Surakarta-Surabaya atau jarak Jakarta-Surabaya.
2.kesalahan besar pada intonasi,
Intonasi yang dipakai tidak mengacu ke logat asli orang arab
asli suku quraisy menyebabkan pelafalan kosa kata yang jamak (plural) sama
dengan mufrad (singular), kosa kata yang pelafalannya panjang menjadi pendek,
padahal dalam bahasa arab saya memperhatikan dialog orang asli arab, untuk kosa
kata panjang yang memuat mad thobi’iy atau mad
lazim pasti dilakukan penekanan yang agak lama walaupun tidak selama
(sepanjang) bacaan mad thobi’iy atau mad lazim dalam tartil quran.
Bayangkan ketika waalidiiina
di baca dengan logat jawa atau masyarakat indonesia setempat dan diikuti
intonasi cepat, berakibat fatal kan… waalidiina menjadi kedengaran walidina yang bisa ditafsirkan bukan
jamak. Begitu pula baarakallaahu
dibaca dengan logat jawa atau masyarakat indonesia setempat dan diikuti
intonasi cepat, berakibat fatal, yaitu baarakallaahu
menjadi kedengaran barakallahu.
Solusi untuk kesalahan 2 yang ditawarkan admin:
Khatib harus sering membuka internet yang berkaitan dengan
ucapan asli arab agar tahu intonasinya orang arab asli dan tempat tinggal asli Saudi
Arabia, Mesir, Yordan, Oman, Kuwait, Dubai, dan lainnya.
Khatib harus sering membiasakan intonasi pembacaan Al Quran yang
diterapkan ke dalam bahasa arab sehari-hari supaya panjang pendeknya terjaga.
Banyak kosa kata arab formal yang diluar Al Quran yang ketika pelafalannya
panjang dipendekkan berakibat salah maknanya.
Khatib jangan terpancing dengan anggapan bahwa berbahasa arab
yang bukan ayat suci Al Quran tidak wajib memakai kaidah tajwid. Kita sering
mendengar banyak orang yang belajar bahasa arab mempercayai pancingan tersebut.
Pancingan tersebut keliru besar, coba perhatikan contoh ini Shadaqah dengan Shadaaqah, dua kata ini punya makna berbeda sekaligus berbeda dalam
hal pelafalannya serta berbeda dalam hal tulisan arabnya. daa pada contoh kedua (shadaaqah)
harus dipanjangkan, daa pada contoh
kedua (shadaaqah) tersusun dari dal dan alif, sedangkan pada contoh pertama (shadaqah) dal tidak
diikuti alif.
Tempat belajar: Bisa di rumah professor sendiri sambil browsing
internet di kamarnya, bisa juga di kantor dinas professor, yang penting di
tempat itu tersedia peralatan untuk nyambung ke internet dengan sinyal kuat.
3. Kesalahan shifaatulhuruuf dan makhaarijulhuruufj.
Kesalahan shifaatulhuruuf dan makhaarijulhururrf telah dilakukan
oleh khatib sebagai berikut:
Insyaa allaah: lafal sy dibaca tidak sesuai makhraj dan shifatnya, mestinya sy
harus keluar dari lidah bagian tengah dengan langit-langit di atasnya tetapi
ini tidak dilakukan oleh khatib.
Laa
syariikalahu: lafal sy dibaca tidak sesuai
makhraj dan shifatnya.
Asyhadu: lafal sy dibaca tidak sesuai makhraj dan shifatnya.
Ashiilaa: lafal shad dibaca tidak sesuai makhraj dan shifatnya.
Sholli wa
sallim: lafal shod dan sin tidak ada bedanya,
semuanya dibaca sama, padahal kedua huruf itu berbeda.
Abduhuu: lafal ‘ain dibaca tidak sesuai dengan makhraj ‘ain dan
shifatnya.
Aakhiratu: lafal kha’ dibaca tidak sesuai makhraj dan shifatnya.
Hurriyah yang berasal dari kata hurriyatun: untuk harfun ha
dibaca sama dengan ha, padahal harf ha pada lafaz hurriyah (yang bermakna
kebebasan atau kemerdekaan) termasuk harf halqi tengah, pengucapannya harus
keluar dari tenggorokan tengah, sama keluarnya dengan harf ‘ain. Di dalam Al Quran
hanya ada dua harfain yang keluar dari tenggorokan tengah yaitu ha (misalnya
pada lafazh rahiimun atau hurriyatun) dan ‘ain (misalnya pada lafazh ‘aliimun
hakiimun)
Qad: lafal dal mati tidak dibaca qalqalah sughra oleh khatib.
Dzakaro: lafal dzal dibaca tidak semestinya.
Samii’un
qariibun mujiibu : lafal sa dibaca kaku dan
keseleo.
Khatib membaca doa secara langsung mengambil ayat suci Al Quran
Surah Ali ‘Imran ayat 194 tanpa diedit sedikit
pun, satu ayat utuh dijadikan sebagai doa “Rabbanaa
wa aatinaa maa wa’attanaa ‘alaa rusulika wa laa tukhzinaa yaumal qiyaamah,
innaka laa tukhlifulmii’aad”.: doa ini diambil langsung dari Al Quran Surah
Ali ‘Imran ayat 194, sama sekali tidak diubah redaksinya, tetapi lafal tukhlifu untuk kha tidak dibaca
semestinya, khatib melafalkan mirip ha
padahal harus ditampakkan ngoroknya keluar dari tenggorokan atas, lafal mii’aad
untuk ‘ain khatib tidak mengeluarkan suaranya dari tenggorokan tengah. Untuk
‘aad harf dal disukun khatib tidak
membacanya dengan bacaan tajwid qalqalah kubra (pada qalqalah tingkat a’la).
Harus berguncang keras atau memantul kuat. Pada lafal mii’aad untuk ‘aa harus dibaca panjang karena ini
termasuk bacaan mad ‘aridl lissukuun yang maksudnya bila ada mad (panjang)
disukun karena waqaf (berhenti) maka mad tersebut harus dibaca panjang
sepanjang mad thabi’iy (1 alif=2 harakat) atau bisa juga dua alif atau bisa
juga tiga alif.
Solusi kesalahan 3 yang ditawarkan Admin:
Khatib harus belajar kembali bahasa arab level dasar dan belajar
membaca Al Quran sesuai dengan tajwid,
Bergurulah kepada para huffadz Al Quran yang banyak bertebaran
di seluruh tanah air, tidak sulit menemukan guru yang mahir tartil quran dengan
tajwidnya yang fasih, bahkan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pun juga banyak
mahasiswa yang mahir tartil quran. Jangan ada rasa malu. Walaupun sudah guru
besar tapi kalau tartil qurannya jelek amburadul ya wajib berguru kepada orang
yang ahlinya biarpun ahlinya nggak bergelar professor atau nggak bergelar Magister
atau nggak bergelar Doktoral. Ingatlah sesuatu yang dilakukan tanpa ilmu
berakibat sia-sia amal perbuatannya. Ingatlah sesuatu yang tidak dikerjakan
oleh ahlinya ya tunggulah kehancurannya.
Tempatnya belajar: bisa di UIN SUNAN AMPEL (UINSA) dan UIN
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG. Admin juga mengetahui di UINSA juga banyak
kelompok mahasiswa huffadz, jadi Prof.Dr.Mudjita Rahardja juga bisa berkunjung
ke UINSA untuk mencari guru atau partner yang cocok buat latihan pengucapan
makhaarijul huruuf hijaaiyyah dalam rangkaian ayat suci Al Quran.
Dari data beberapa kesalahan
tersebut
Admin menyimpulkan sementara ini bahwa khatib tidak bisa bahasa
arab dilihat dari .
Intonasinya yang sama sekali tidak menunjukkan sanggup berbahasa
arab.
Kaku dalam melafalkan kosa kata arab.
Tampak sangat kaku dalam membaca ayat suci Al Quran, faktanya
khatib membaca Al Quran tidak sesuai dengan tajwidnya sehingga dalam khutbah
tartilnya tampak jelek (amburadul).
Demikianlah pembedahan yang telah
dilakukan oleh admin selama dua minggu sejak 2 Syawal 1436 H (Jumat 18 juli
2015) mulai dari mengubah dari suara di rekaman ke bentuk ketikan dengan
ketikan manual, mendengarkan rekaman berulang-ulang agar tidak keliru, membaca
hasil ketikan berulang-ulang agar tidak salah, mencocokkan dalil Al Quran ke
mushaf Al Quran, mencocokkan bahasa arabnya, lalu membedah isinya, lalu
mengetik hasil pembedahan khutbah idul fitri dengan manual, membaca ulang
ketikan hasil pembedahan, dan yang terakhir meng-upload (mengunggah =
memposting) ke blog Masjid Al Hikmah Kebonsari Surabaya dan facebook Masjid Al
Hikmah Kebonsari Surabaya.
Semoga hasil bedah khutbah ini bermanfaat buat para khatib
jumat, para khatib idul adha, para khatib idul fitri, dalam suasana formal atau
informal di waktu mendatang.
Rumusan beberapa pertanyaan
yang sudah disusun admin sebelum melakukan pembedahan khutbah. Admin yakin
rumusan beberapa pertanyaan berikut bisa memandu pembaca dan para jamaah yang
sudah mengikuti khutbah Idul Fitri 1436 H di Masjid Al Akbar Surabaya untuk
mencermati isi khutbah bahkan untuk membedah khutbah Idul Fitri 1436 H Masjid Al
Akbar Surabaya lebih detail atau lebih mendalam..
1.Nikmat allah itu apa saja?
2.Apa maksudnya kebebasan insani?
3.Apa dalil kebebasan insani?
4.Apa dalil mensyukuri nikmat kebebasan insani?
5.Mensyukuri kebebasan insani harus dilakukan kapan?
6.Mensyukuri kebebasan insani harus dilakukan dimana?
7.Cara-cara mensyukuri kebebasan insani?
8.Sejauh mana kebebasan insani yang sudah diterapkan oleh kaum
muslimin selaku masyarakat lokal, kebebasan insani selaku masyarakat regional,
kebebasan insani selaku masyarakat nasional, dan kebebasan insani selaku
masyarakat internasional?
9.Apa akibatnya ketika kebebasan insani itu diterapkan oleh
seorang muslim?
9.Apa akibat orang yang tidak mensyukuri nikmat kebebasan insani
di dunia baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, dan negara?
10.Dimana jurang pemisah kebebasan insani akhir-akhir ini
(tentunya harus diungkap)?
11.Apa penyebab orang melakukan kebebasan insani?
12.Mengapa orang tidak melakukan kebebasan insani?
13.Banyak jama’ah shalat idul fitri 1436 h masjid al akbar
surabaya yang mudik ke kampung halaman usai shalat idul fitri, apakah mudik
beridul fitri usai shalat idul fitri di masjid al akbar sudah merupakan
mensyukuri nikmat kebebasan insani?
14.Dari macam-macam kebebasan insani, yang mana yang bersifat
berkelangsungan dan berkesinambung antar ramadhan, idul fitri, dan pasca
ramadhan? Mana yang jarang dilakukan kaum muslimin? Mengapa jarang dilakukan?
Apakah tidak bisa dilakukan lebih sering lagi?
15.Apakah isu terbaru yang berkembang di masyarakat jawa timur
atau indonesia sekarang ini merupakan bagian dari kebebasan insani? Mengapa?
Apakah harus disyukuri?
16. Sampai seberapa besar kebebasan insani yang sudah dilindungi
oleh pancasila?
17.Sampai seberapa besar kebebasan insani yang jauh melenceng
dari nilai-nilai pancasila dan nilai-nilai al
quran dan as sunnah?
CATATAN ASLI KHUTBAH IDUL
FITRI 1436 H MASJID AL AKBAR SURABAYA
MENSYUKURI NIKMAT KEBEBASAN
INSANI
Oleh
Prof. Dr. H.Mudjia Rahardjo, M.Si.
REKTOR UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
(diketik oleh admin sendiri)
Khutbah I
Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Allaahu akbar 3x
Allaahu akbar 3x
Allaahu akbar 3x
Allaahu akbar kabiira, wal hamdu lillaahi katsiiraa
Wa subhaanallaahi bukratan wa ashiilaa.
Laailaaha illaallaahu wallaahu akbar, allaahu akbar walillaahil
hamd.
Alhamdulillaahilladzii ja’alanaa ayyaamu li’iidil fithri li
‘ibaadihishshaalihiin,
Waja’alanaa minal masruuriin, wa nahnu insyaa allaah minal
aaidiin wal faaiziiin,
Asyhadu an laa ilaaaha illa allaah wahdahuu laa syariikalah.
Wa asyhadu anna muhammadan abduhuu wa rasuuluhu.
Allaahumma sholli wa sallim wa baarik ‘alaa sayyidinaa
muhammadin wa ‘alaa aaliihi wa ashaabihi ajma’iin.
Robbisy rohliiy shodriiy wayassirliiy amriiy wahlul ‘uqdatan min
lisaaani yafqohuu qawliiy.
Amma ba’du
Fa yaa ayyuha alhaadliruun, uusiikum wa iyaaya bitaqwallaah.
Fa qod faazalmuttaquun,
Fa qaala allaahu ta’aalaaa fi kitaabihil kariiim
Bismillaahirrahmaanirrahiiim
Qad aflaha man tazakkaa, wa dzakarosmarobbihii fa sholla. Bal
tu’ tsiruuunal hayaataddunyaa wal aakhiratu khairu wa abqa.
Ma’aasyiral muslimiin rahimakumullaah,
Marilah kita tidak henti-hentinya senantiasa memanjatkan rasa
syukur yang mendalam.Allah telah memberikan kepada kita berbagai karunia dan
nikmat lebih-lebih nikmat berupa iman dan islam yang selama ini kita pegang
teguh.
Dengan iman dan islam insya allah kita semua selamat dunia dan
akhirat.
Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan
nabi kita nabi besar muhammad saw pada keluarga, para sahabat, dan seluruh
pengikutnya.
Hadirin rahimakumullah.
Seperti tahun-tahun hijriyah sebelumnya sejak memasuki bulan
syawal ramai umat islam bersedekah, tak hanya berupa pemberian bahan pangan,
sandang, dan uang kepada saudara-saudara yang patut disantuni, tetapi juga
sedekah bentuk lain yang semakin semarak hingga pelaksanaan shalat idul fitri
khususnya berupa bacaan takbir, tahlil, dan tahmid sebagaimana dijelaskan dalam
sebagian hadits berikut:
Atas setiap ruas tulang dari seorang di antara engkau semua pada
setiap pagi harus ada sedekahnya masing-masing, maka setiap sekali bacaan
tasbih adalah sedekah, setiap sekali bacaan tahmid adalah sedekah, setiap
sekali bacaan tahlil adalah sedekah, setiap kali bacaan takbir adalah sedekah,
memerintahkan kepada kebaikan juga sedekah, mencegah dari kemungkaran juga
sedekah, dan keseluruhannya itu dapat dicukupi oleh dua rokaat yang dikerjakan
oleh seorang itu dari shalat dhuha.
Bacaan takbir mengagungkan Allah, bacaan tahlil mengesakan
Allah, sedangkan bacaan tahmid memuji Allah subhaanahuwata’aala.
Allaahu akbar 3x
Laa ilaaha illallaah huwallaahu akbar
Alaahu akbar walillaahil hamd.
Ma’aasyiral muslimiin rahimakumullaah.
Selepas menjalani puasa wajib dan sejumlah amalan sunnah selama
bulan ramadhan.
Sungguh masih sangat penting untuk membaca kembali dan merenungi
makna dan maksud perintah berpuasa ramadhan sebagaimana dalam firman Allah.
Bismillaahirrahmaanirrahiiim,
Yaa ayyuhalladziina aamanuu kutiba ‘alaikumushiyaamu kamaa
kutiba ‘alalladziina minqablikum la’allakum tattaquun.
Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa
sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Bila tujuan perintah ini dibaca secara kotekstual dalam arti
tidak lepas dari teks-teks sekitarnya, maka sangat jelas bahwa perintah
berpuasa ramadhan merupakan jalan menuju keberuntungan atau muflihuun.
Selain sebagaimana lazim ditafsirkan
Ada beberapa pesan sangat penting tersirat dalam rangkaian ayat
tersebut,
Pertama, kebertakwaaan merupakan derajat tertinggi keberislaman
seorang manusia,
Kedua, kebertakwaan memiliki sejumlah penanda terutama
menjadikan Al Quran sebagai petunjuk atau huda dalam menjalani kehidupan,
Ketiga, kebertakwaan merupakan jalan ditunjukkan oleh Allah
kepada manusia untuk menuju keberuntungan,
Mempertimbangkan hubungan langsung antara kebertakwaan dengan
kebahagiaan tersebut maka sama sekali tidak salah apabila sejumlah masyarakat
jawa menyebut bahwa islam tidak lain merupakan ilmu kabegjan sejati.
Mereka meyakini bahwa hanya dengan ilmu dan amal menurut ajaran
islam, manusia bisa mencapai keberuntungan, kabegjan, atau kebahagiaan.
Hadirin rahimakumullaah,
Setingkat di bawah derajat takwa adalah ikhlash,
Ikhlash pada dasarnya merupakan sikap dan perilaku yang
memadukan antara dua akhlak mulia menurut islam yaitu syukur dan sabar.
Selain mempertanyakan secara berulang
Nikmat mana lagi yang manusia dustakan,
Fabiayy alaa irabbikumaa tukadzibaan
Janji sekaligus ancaman Allah terhadap manusia yang lalai
bersyukur juga sangat jelas
La insyakartum laazidannakum walaa in kafartum inna ‘adzaabii
lasyadiid.
Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti kami akan menambah nikmat
kepadamu dan jika kamu mengingkari nikmatku maka sesungguhnya azabku sangat
pedih.
Syukur secara sederhana adalah mengakui dan memuji
kemahamurahan, menghargai dan memanfaatkan secara bertanggung jawab seluruh
karunia Allah.
Sedangkan
Sabar adalah menerima segala kejadian terutama musibah dengan
sikap berserah diri tanpa berprasangka buruk kepada Allah. Serta tidak berputus
asa dalam berusaha dan berputus asa terhadap rahmat Allah.
Selain berulang kali menegaskan keberpihakan Allah kepada
orang-orang yang senantiasa bersabar, janji allah terhadap sikap dan perilaku
sabar juga sangat jelas yang di dalam Al Quran dalam Surah Al Insan ayat 12
disebutkan berupa surga dan busana sutra.
Sedangkan dalam Surah Al A’rad.23-24 disebutkan sebagai berikut
bismillaahirrahmaanirrahiiim jannaatu adnin yadkhuluhaa wa man shalaha min
aabaaihim wa azwaajihim wa dzurriyaatihim.
Kembali kepada pengertian ikhlash yang dibaca secara
koteksual.dengan rukun iman keenam maka ikhlas berarti tidak hanya mengakui
kekuasaan allah dalam menetapkan apapun kejadian baik maupun buruk menurut kita
tetapi juga menjadikan setiap kejadian baik musibah maupun anugerah sebagai
jalan untuk mendekatkan diri kepada allah swt.
Dalam musibah kita mendekat kepada Allah melalui sikap dan
perilaku sabar, sedangkan dalam anugerah kita mendekat kepada Allah melalui
sikap dan perilaku bersyukur.
Seseorang dengan jiwa dan semangat keihlasan akan melihat
kehidupan secara sederhana ke dalam lima langkah:
Pertama, menetapkan dan memperbaiki niat, kehendak, atau tujuan
baik setiap usaha.
Kedua, mengupayakan sekuat tenaga dan pikiran untuk mewujudkan
niat baik tersebut.
Ketiga, meminta atau berdoa sepenuh keyakinan kepada Allah agar
bisa mewujudkan niat baik tersebut.
Keempat, bersyukur bila berhasil mewujudkan niat baik tersebut.
Yang kelima adalah bersabar bila gagal mewujudkan niat baik
tersebut.
Bisa kita garis bawahi kembali bagi kaum muhlisin keberhasilan
dan kegagalan anugerah dan musibah semata-mata merupakan cara Allah SWT untuk
memberi kesempatan kepada manusia untuk mencapai dua pekerti paling mulia
menurut Allah yaitu bersyukur dan
bersabar.
Menyatunya dua pekerti mulia, syukur terhadap nikmat dan sabar
terhadap musibah, demikian yang menurut hemat saya menjadi inti dari sikap dan
perilaku ikhlash, suatu derajat keberislaman yang setingkat di bawah dan
niscaya sudah dimiliki oleh siapa pun yang mencapai derajat ketakwaan
sebagaimana tujuan akhir ibadah puasa.
Kini marilah bersama-sama kita mencermati sejumlah kekhususan
manusia dibanding makhluk lain agar semakin dalam kita mengenali diri kita ini
sesungguhnya siapa, agar semakin jelas betapa istimewa tetapi juga sangat rawan
kedudukan kita sebagai manusia, juga agar semakin kuat kehendak kita untuk
senantiasa bersyukur atas nikmat Allah yang diberikan kepada kita sekalian.
Ma‘aasyiral muslimin rahimakumullah.
Kendati tak terhitung jumlah dan uraian tentang nikmat yang
diberikan Allah kepada manusia sangat jarang perhatian diberikan kepada nikmat
berupa kebebasan insani.
Lebih memprihatinkan lagi nikmat kebebasan insani yang sangat
mendasar ini cenderung digunakan secara bertentangan dengan pengertian syukur
sebagaimana kesadaran dan tindakan mengakui memuji kemahamurahan, menghargai
serta memantaatkan segala karunia Allah secara bertanggung jawab.
Salah satu sumber penalaran dan kebebasan yang diberikan kepada
manusia bahkan dalam beragama adalah firman Allah sebagai berikut :
Laa ikraaha fiddiin
Qad tabayyana rusydu minal ghayy.
Tidak ada paksaan untuk memasuki agama, sesungguhnya telah jelas
jalan yang benar daripada jalan yang sesat.
Sumber lain yang juga menegaskan kebebasan untuk memilih apakah
akan beriman atau tidak adalah firman Allah di dalam surah al kahfi yang
artinya dan katakanlah kebenaran itu datangnya dari tuhanmu. Wa qulilhaqqu min
rabbikum faman syaa- a fal yukmin wa man syaa a fal yakfur,
Dan katakanlah kebenaran itu datangnya dari tuhanmu, maka barang
siapa yang ingin beriman hendaklah ia beriman dan barang siapa yang ingin kafir
biarlah ia kafir.
Sesungguhnya kami telah sediakan bagi orang-orang dhalim itu
neraka yang gejolaknya mengepung mereka dan jika mereka meminta minuman niscaya
mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang
menghanguskan muka, itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang
paling jelek (Al Quran Surah Al Kahfi ayat 29).
Kalau para pemikir barat memiliki dan menguraikan pengertian
freedom, independence, liberty,
Hasanah pengetahuan islam lebih tertarik kepada istilah hurriyah
dan ikhtiyar.
Dua arah kebebasan tergambar dalam konsep hurriyah yaitu kebebasan
internal atau hurriyah dzarriyah berupa kuasa memilih sejumlah pilihan misalnya
dua pilihan berbeda dan bahkan saling bertentangan, dan dua adalah kebebasan
eksternal atau hurriyah khaarijiyyah berupa tidak adanya rintangan pihak luar
bagi manusia untuk melakukan sesuatu.
Kebebasan internal manusia terkesan dari penggunaan istilah
Kebebasan berkehendak hurriyah alirodah,
Kebebasan nurani hurriyah addhomir,
Kebebasan diri hurriyah annafs,
Kebebasan etika hurriyah al adabiyah,
Sedangkan kebebasan eksternal manusia terkesan dari penggunaan
istilah
Attarbiyah atau kebebasan seturut fithrah manusia,
Assiyasiyah atau kebebasan yang dijamin dalam peraturan
perundang-undangan,
Al addiniyah adalah kebebasan memiliki keyakinan dan madzhab
keagamaan.
Masih dari hasanah pemikiran islam kebebasan manusia juga
diungkapkan dengan istilah ikhtiyar. Berbeda sangat mencolok dari pemikiran
barat,
Kebebasan berikhtiyar menurut islam bertautan erat dengan akar
katanya yaitu kebaikan atau khair. Karena itu sebagai muslimin sudah semestinya
tidak menceraikan istilah dan makna kebebasan dan ikhtiyar dari istilah dan
makna kebaikan.
Kebebasan tidak lain adalah hak untuk memilih kebaikan dari
keburukan dan atau memilih yang terbaik dari berbagai kebaikan lain.
Perilaku memilih keburukan ketimbang kebaikan bukan merupakan
wujud kebebasan.
Hadirin rahimakumullah.
Umat manusia sekarang sedang dihadapkan pada pemaknaan secara
semena-mena terhadap makna nikmat kebebasan sejati sebagaimana digariskan dalam
firman Allah tersebut.
Manusia sering lalai untuk menggunakan nikmat kebebasan tersebut
secara bertanggung jawab.
Kebebasan senantiasa bermata dua yang bila dipahami dan
digunakan secara bertanggung jawab akan menghasilkan kebaikan dan akan
menghasilkan keburukan bila digunakan secara tidak bertanggung jawab sehingga
muncul berbagai aliran akhir-akhir ini yang justru membingungkan umat islam itu
sendiri.
Manusia juga sering lalai bahwa dibalik kebebasan
Untuk memilih senantiasa ada tanggung jawab.
Banyak contoh bisa diamati setelah menggunakan kebebasan memeluk
islam dengan membaca dua kalimah syahadat tidak senantiasa diikuti dengan
memeluk islam secara menyeluruh atau kaaffah sehingga terjerumus dalam
kefasikan.
Juga banyak contoh betapa manusia tidak mampu menjaga kehormatan
dirinya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat tetapi hati dan perilakunya
lebih mendekati kaum kafir hingga terjerumus dalam kemunafikan.
Karena itu patut kita renungi bersama bahwa nikmat kebebasan
sebagai kesanggupan untuk memilih kebaikan dari keburukan merupakan
keistimewaan yang diberikan oleh Allah kepada manusia.
Bisa kita bandingkan misalnya antara manusia dengan hewan selain
tidak bisa memilih akan menjadi apa-apa baik dalam konteks pekerjaan semisal
menjadi dokter, menjadi tentara, menjadi polisi, atau menjadi pedagang, maupun
dalam konteks menjadi saleh atau menjadi fasik.
Hewan juga sama sekali tidak bisa menghindar bahkan dari
dorongan biologis mereka sendiri.
Bisa disaksikan kapan dan dimana pun seekor hewan menghadapi sesuatu
yang merangsang dorongan biologis mereka maka seketika itu pula perilaku
dorongan biologis mereka akan muncul
Sama sekali tidak benar bila dikatakan bahwa hewan lebih
memiliki kebebasan dibanding manusia karena justru dalam diri hewan tercermin
ketidak berdayaan, ketidakmampuan, dan ketidaksanggupan untuk memilih atau
bahkan sekedar menunda dorongan biologis mereka.
Walhasil menjadi lebih jelas bahwa derajat kebebasan insani
tercermin dari kemampuan dirinya untuk menjadi tuan sekaligus pengendali atas
diri sendiri, atas pikiran perasaan dorongan dan nafsu sendiri. Dan inilah inti
daripada puasa yang baru saja kita lakukan sepanjang ramadhan.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Kini perkenankan saya mengajak diri saya sendiri dan hadirin
sekalian untuk mensyukuri nikmat kebebasan kita sebagai manusia secara
bertanggung jawab.
Marilah kita maknai dan hayati kebebasan sebagai kemerdekaan dan
segala bentuk keburukan dan kejahatan dan kemerdekaan untuk melakukan segala
kemuliaan dan kebaikan. Sama sekali tidak pernah ada kemerdekaan untuk
melakukan kejahatan dan keburukan.
Marilah senantiasa kita rekatkan diri arti kebebasan sebagai
ikhtiyar yang tidak lain adalah kemerdekaan untuk memilih kebaikan atau khair.
Saya mengajak diri sendiri dan hadirin sekalian untuk senantiasa
memenuhi segala hak Allah
Sebagai konsekuensi logis syahadat kita dengan menunaikan segala
kewajiban sebagai umat muslim.
Marilah kita tegakkan shalat, membayar zakat,
Berpuasa ramadhan dan beribadah haji yang merupakan hak allah
swt atas muslim dan muslimah.
Mengakhiri khutbah ini saya mengajak diri sendiri dan hadirin
sekalian untuk menyelesaikan segala persoalan yang menyangkut hak adam, hak
antar sesama muslim dan antar sesama manusia karena juga sangat jelas bahwa
allah swt hanya memperkenankan jannatunnaim kepada siapapun muslim dan muslimah
yang memberikan manfaat bagi orang lain juga hak adam khususnya menyangkut dosa
dan kesalahan antar sesama manusia hanya terampuni bila sudah saling
diikhlaskan satu sama lain.
Secara khusus kepada masyarakat muslim jawa timur dan masyarakat
keseluruhan mari kita terus kita pupuk sikap toleran, sikap saling menghargai
selama ini sebagaimana telah kita tunjukkan untuk menjaga stabilitas propinsi
Jawa Timur ini.
Kita juga sadar bahwa kedewasaan masyarakat jawa timur telah
teruji sehingga tidak mudah digoyah oleh berbagai isu-isu yang tidak
bertanggung jawab.
Semoga kita semua hadirin sekalian rahimakumullah termasuk dalam
golongan orang-orang yang diijabahi oleh Allah.
Semoga kita semua menjadi golongan muhlishin
Semoga kita termasuk golongan muttaqiin
Semoga kita termasuk golongan orang-orang muflihuun,
Baarakallaahu liy wa lakum fil quraanil adhiim
Wa nafa’ani wa iyyaakum bima fiihi min aayaati wa dzikril
hakiim.
Taqabbal allaahu minnaa wa minkum tilaawatahu
Innahu huwassamiiul ‘aliim.
Wa qurrabbighfir warham wa anta khairurraahimiin.
Khutbah II
Allaahu akbar 3x
Allaahu akbar 3x
Allaahu akbar 3x
Laa ilaaha illallaahu wa allaahu akbar, allaahu akbar wa
lillaahilhamd,
Alhamdulillaahi wahdah shadaqa wa’dah,
Wa nashara abdah
Wa a’azza jundah
Wa hazamal ahzaaba wahdah.
Asyhadu anlaa ilaahaillaallaah wu wah dahuu laa syariikalah
Wa asyhaduanna muhammadan abduhuu wa rasuuluhu laa nabiya
ba’dah,
Allaahumma shalli wa sallim wa baarik ‘ala sayyidina muhammadin
wa ‘alaa aaliihi wa ashaabihi ajma’iin.
Hadirin rahimakumullah,
Sebelum kita tutup dengan doa, marilah usai ramadhan ini
memasuki 1 syawal ini
Kita tetap menghadirkan nilai-nilai puasa, kita tetap
menghadirkan nilai-nilai ramadhan yang telah kita miliki selama satu bulan
penuh agar insya allah semua kita berakhir dengan khusnul khotimah,
Mudah-mudahan Allah berkenan menerima seluruh ibadah kita,
shalat kita, puasa kita, tadarus kita, dan ibadah-ibadah yang lain selama di bulan
ramadhan,
Innallaaha wa malaaikatahu yushalluuna ‘alannabiy
Yaa ayyuhalladziina aamanuu shallu ‘alaihi wa sallim
mutasliimaa.
Allaahumma sholli wa sallim wa baarik ‘alaa sayyidina muhammadin
wa ‘alaa aaliihi wa ashaabihi ajma’iin.
Allaahummaghfir lil muslimiina wal muslimaat wal mukminiina wal
mukminaat al ahyaai min hum wal amwaat, innaka samii’un qariibun mujiibu
da’waat wa yaa qoodiyahaajaat,
Allaahummaghfirlanaa wa li waalidiinaa
Warham humaa kamaa rabbayani shagiiraa,
Allaahummaghfirlanaa dzunuubanaa wa kaffir ‘annaa sayyiaatinaa
wa tawaffanaa ma’al abraar.
Rabbanaa wa aatinaa maa wa’attanaa ‘alaa rusulika wa laa
tukhzinaa yaumal qiyaamah, innaka laa tukhlifulmii’aad.
Rabbanaa atinaa fiddunyaa hasanah wa fil akhirati hasanah wa
qinaa ‘adzaabannaar.
Wa shallallaahu ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa alaa alihi wa
shahbihi ajma’iin.
Wal hamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.
Demikianlah pembedahan dan catatan asli khutbah Idul Fitri 1436
H Masjid Al Akbar Surabaya,
Salam Idul Fitri,
Admin,
TERIMA KASIH BANYAK KAMI
SAMPAIKAN KEPADA BLOGGER YANG TELAH MEMFASILITASI KAMI DALAM PUBLIKASI TULISAN
KAMI