Sabtu, 01 Agustus 2015

Sabtu, 01 Agustus 2015

KEKISRUHAN BESAR KHUTBAH IDUL FITRI 1436 H (JUMAT 17 JULI 2015) TELAH DILAKUKAN OLEH Prof. Dr. H. MUDJITA RAHARDJO, M.SI. DI MASJID AL AKBAR SURABAYA,

Ucapan salam
Assalaamu’alaikum.
Apa kabar semua saudara muslim di seluruh dunia?
Kami Admin menyampaikan salam perdamaian dan salam ukhuwah kepada semua saudara muslim khususnya yang berada di Malaysia, karena sampai tahun 1436 H (2015) mayoritas teman facebook Masjid Al Hikmah Kebonsari Surabaya adalah saudara muslim di Malaysia mulai dari yang masih sekolah dasar sampai yang sudah menjadi professor (guru besar) dan masjid-masjid di Malaysia di bawah naungan pemerintah malaysia sudah lama berteman dengan facebook Masjid Al Hikmah Kebonsari Surabaya kita perkuat tali ukhuwah islamiyyah, jangan ada cerai berai di antara kita.
Kami Admin juga menyampaikan salam perdamaian buat semua pengunjung blog Masjid Al Hikmah Kebonsari Surabaya baik yang muslim maupun non muslim. Spesial salam persahabatan dan salam perdamaian kami sampaikan kepada pengunjung yang paling mendominasi kunjungannya hingga tahun 2015 berturut-turut mulai pengunjung terbanyak adalah Amerika Serikat, Rusia, Malaysia, Jerman, India, Korea Selatan, Ukraina, China, Inggris. Semoga pengunjung yang non muslim mendapat pencerahan dari tulisan kami dan mendapatkan kemudahan dalam memilih jalan yang diridhai Allah SWT.
Terima kasih atas kunjungannya.

Pembedahan
==================================
KEKISRUHAN BESAR KHUTBAH IDUL FITRI 1436 H (JUMAT 17 JULI 2015) TELAH DILAKUKAN OLEH Prof. Dr. H. MUDJITA RAHARDJO, M.SI. DI MASJID AL AKBAR SURABAYA,
===================================
Tema: Mensyukuri Nikmat Kebebasan Insani.
Khatib (orang yang berkhutbah): Prof. Dr. H. Mudjita Rahardjo, M.Si. (Guru Besar Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang, Rektor Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang).
Hari, tanggal: Jumat, 17 Juli 2015 (Jumu’ah, 1 Syawwal 1436 H).
Tempat : Masjid Al Akbar Surabaya (Masjid Nasional Al Akbar Surabaya).
Catatan Khutbah Asli : Ada, tercantum di bagian paling bawah.
Durasi : Alokasi waktu khutbah tidak disebutkan MC, tetapi ini tidak masalah. karena waktu tidak dibatasi, bisa agak lama, bisa lama, karena memang khutbah ini pada hari libur nasional. Hari libur nasional ini memang untuk mengikut khutbah idul fitri.
Waktu : Pagi hari.
Isi :  Isi khutbah kurang begitu terkait dengan tema.
Kelengkapan : Uraian khutbah tidak lengkap, terlalu melebar yang tidak tepat sasaran. Miskin contoh-contoh sederhana, miskin dalil yang berkaitan dengan tema, miskin dalil yang berkaitan dengan statement khatib.
Ayat Al Quran : Cuma sedikit mendukung tema. Khatib tidak bisa melafalkan ayat suci Al Quran secara fasih.
Al Hadits : Ada sedikit tapi tidak mendukung tema.
Contoh sehari-hari terkini:  Tidak ada.
Contoh sehari-hari lawas : Tidak ada.
Contoh sehari-hari dari para sahabat rasul : Tidak ada.
Bahasa: Menggunakan Bahasa Indonesia Informal. Bahasa yang disampaikan agak sulit dipahami. Ada sebuah kalimat menggunakan majas personifikasi namun tidak mendukung tema. Bahasa Arab yang digunakan oleh khatib tampak jelek.
Keterkaitan : “masih membingungkan”.
Kupasan admin:
Admin memandang bahwa terlalu panjang lebar pengantar khutbah di bagian awal khutbah I sehingga terasa khutbah begitu panjang dan lama padahal sesungguhnya inti dari khutbahnya cuma diuraikan sekilas, lagi pula inti khutbah cuma sebagian besar berupa statement yang bersifat umum dan teoritis yang akhirnya menimbulkan banyak penafsiran dan pertanyaan, padahal kalau diuraikan lebih detail atau lebih mendalam tema “Mensyukuri Nikmat Kebebasan Insani” jauh lebih menarik dan bermanfaat ketika dikaitkan dengan keadaan nyata dan isu-isu terbaru yang berlangsung saat itu di Surabaya, di Jawa Timur, atau di Indonesia.
Di awal khutbah I khatib (orang yang berkhutbah, dalam hal ini Prof.Dr.H. Mudjita Rahardjo) mengatakan begini: “…seperti tahun-tahun hijrah sebelumnya…”. Akibat pengucapan hijriyyah terlalu cepat, kata “hijjriyyah” menjadi kedengaran “hijrah”.
Admin bersikap tegas sebaiknya kata-kata “tahun hijrah” yang diucapkan oleh Prof.Dr.H. Mudjita Rahardjo harus diganti dengan istilah “tahun hijriyyah”. Secara umum di Indonesia para muslimin sudah menggunakan penyebutan tahun  yaitu tahun hijriyyah dan tahun masihiyyah (miladiyah).

Selain itu, khatib mengucapkan begini “………sedangkan dalam surah Al A’rad.23-24 disebutkan sebagai berikut bismillaahirrahmaanirrahiiim jannaatu adnin yadkhuluhaa wa man shalaha min aabaaihim wa azwaajihim wa dzurriyaatihim……….”. Admin memandang bahwa khatib melakukan kesalahan dalam penyebutan Surah Al A’rad ayat 23-24, padahal setelah admin cek di Al Quran yang benar adalah Al Quran Surah Ar Ra’d (Arra’di) ayat 23-24. Pengucapan yang benar adalah Arra’du atau Arra’di.

Selanjutnya perhatikan ucapan khatib berikutnya: ”…kini marilah bersama-sama kita mencermati sejumlah kekhususan manusia dibanding makhluk lain agar semakin dalam kita mengenali diri kita ini sesungguhnya siapa, agar semakin jelas betapa istimewa tetapi juga sangat rawan kedudukan kita sebagai manusia, juga agar semakin kuat kehendak kita untuk senantiasa bersyukur atas nikmat Allah yang diberikan kepada kita sekalian.”
Admin memandang bahwa terlalu berlebihan kalau dikatakan dengan mencermati kekhususan pada diri manusia lalu serta merta cepat-cepat mengungkapkan “agar semakin kuat kehendak kita untuk senantiasa bersyukur atas nikmat allah yang diberikan kepada kita sekalian “. Banyak manusia di Jawa Timur jauh lebih tahu kekhususan dirinya yang mana pengetahuan tentang kekhususan dirinya sudah diajarkan oleh para guru di sekolah mulai madrasah mulai level ibtidaiyyah hingga aliyah, yang tentunya banyak dikupas baik melalui pelajaran Agama Islam, Biologi, maupun pelajaran Pancasila dan kewarganegaraan atau ilmu sosial kemasyarakatan lainnya. Sementara khatib hanya membeber kekhususan yang terjadi pada manusia dan hewan cuma satu aspek yaitu dorongan biologis. Bahkan banyak para ilmuwan atau saintis yang lebih mengetahui kekhususan dirinya melalui bedah keilmuan yang tidak diragukan lagi keilmuannya ternyata masih saja tidak pandai bersyukur (qaliilan min ‘ibaadillaaahisysyakuur)..
Lebih lanjut, khatib menyebut “sejumlah kekhususan”, sejumlah kekhususan yang dimaksud khatib itu meliputi apa saja? Bilangnya sejumlah kekhususan tapi kok cuma yang disebutkan hanya “kepandaian manusia dalam mengendalikan dorongan biologisnya, memilih beriman, dan memilih profesi”.  Mestinya khatib menguraikan kekhususan manusia dikaitkan dengan macam-macam kebebasan. Sehubungan dengan macam-macam hurriyah dan macam-macam ikhtiyar, maka contoh kekhususan lainnya apa? Nggak disebut loh. Andai disebut dalam khutbah pastilah isi khutbah ini lengkap dan bisa mendukung tema yang diangkatnya.

Selanjutnya khatib mencoba menggunakan gaya bahasa personifikasi dengan menyebutkan ” …kebebasan senantiasa bermata dua…”, Upaya khatib dalam mempersonifikasikan ungkapannya untuk membumbui khutbahnya agar terkesan enak didengar malah menjadi tidak konsisten, ada kontradiksi dengan pernyataan sebelumnya yaitu “…pemikiran islam kebebasan manusia (yang dimaksud khatib adalah juga diungkapkan dengan istilah ikhtiyar. Berbeda sangat mencolok dari pemikiran barat (memiliki dan menguraikan pengertian freedom, independence, dan liberty)…”,
Di awal khatib menyatakan bahwa kebebasan dalam pemikiran islam (berupa hurriyah dan ikhtiyar, hurriyah berupa kuasa memilih sejumlah pilihan (banyak pilihan) dan tidak adanya rintangan pihak luar bagi manusia untuk melakukan sesuatu, ikhtiyar berupa kebaikan atau khair), ternyata disanggah oleh khatib sendiri dalam pernyataan berikutnya “kebebasan senantiasa bermata dua”. Apakah maksud ungkapan kebebasan senantiasa bermata dua itu gambaran dari dua hal dikotomi yaitu kebaikan dan keburukan? Ataukah maksudnya ada dua golongan besar yaitu pemikiran barat yang mengarah keburukan dan pemikiran islam yang mengarah kebaikan? Ataukah memang kebebasan itu tersusun dari dua hal yaitu hurriyah dan ikhtiyar? Ataukah kebebasan yang bertanggung jawab dan tidak bertanggung jawab itu hadir pada diri manusia? Atau apakah kebebasan itu tersusun dari dua hal “berbatas dan tanpa batas”? Khatib tidak menyebutkan keunggulan pemikiran islam tentang kebebasan, malahan khatib lebih sibuk memerinci jenis-jenis kebebasan (macam-macam kebebasan) tanpa memberikan definisi yang pasti. Barangkali khatib bermaksud lebih melanggengkan pemikiran barat? Admin melihat Al Quran dan As Sunnah bahwa kebebasan yang dimaksudkan adalah kebebasan untuk mengarahkan manusia kepada kebaikan karena manusia terlahir ke dunia tidak lain hanya berkewajiban untuk kebaikan di dunia, karena kebaikan yang dilakukan inilah merupakan ibadah yang wajib dikerjakan sebagai wujud liya’buduun.

Begitupula, admin memandang bahwa khatib hanya menyebutkan dua dalil Al Quran yang berkaitan dengan kebebasan untuk memilih beragama hurriyah addiniyyah, tetapi untuk jenis-jenis kebebasan yang lainnya antara lain hurriyah annafsi, hurriyah assyahsiyah, hurriyah addhomiir, hurriyah al adabiyah, kesemuanya tidak ditunjukkan dalilnya dari Al Quran atau As Sunnah. Bayangkan khatib begitu nyerocos lihai melafalkan jenis-jenis hurriyah tetapi tidak disebutkan contoh sederhananya dan dalilnya, bahkan ulasan sekilas pun nggak ada, apakah jama’ah shalat Idul Fitri 1436 H Masjid Al Akbar Surabaya paham? It’s impossible. It’s very difficult to understand for Moslems who have finished doing eid al fithr prayer in Al Akbar Mosque.
Admin menduga bahwa jama’ah shalat Idul Fitri 1436 H Masjid Al Akbar Surabaya tidak paham dengan maksud khatib karena mayoritas jamaah shalat Idul Fitri 1436 H Masjid Al Akbar Surabaya adalah masyarakat menengah ke bawah baik dalam hal ekonomi dan pemikirannya yang berkaitan dengan hal tersebut. Kita mengetahui bahwa jama’ah shalat Idul Fitri 1436 H Masjid Al Akbar Surabaya sangat membludak mencapai puluhan ribu dengan level kecerdasan yang sangat beragam mulai level sangat rendah sampai level sangat tinggi dan mayoritasnya adalah jama’ah dengan kecerdasan dan pengetahuan level sedang sampai ke level bawah (level sangat rendah).

Lebih jauh lagi perhatikan ucapan khatib berikut:
“…kebebasan senantiasa bermata dua yang bila dipahami dan digunakan secara bertanggung jawab akan menghasilkan kebaikan dan akan menghasilkan keburukan bila digunakan secara tidak bertanggung jawab sehingga muncul berbagai aliran akhir-akhir ini yang justru membingungkan umat islam itu sendiri.”
Admin memandang ucapan khatib tidak fair karena tidak disertai contoh sederhana yang berupa keadaan nyata akhir-akhir ini, padahal khatib jelas-jelas menyebutkan “……aliran akhir-akhir ini yang justru membingungkan umat islam itu sendiri……….” Aliran yang mana? Harusnya ucapan itu dikaitkan dengan kebebasan insani, lalu kaitkan dengan tema nikmat kebebasan insani agar kita tahu bahwa apakah kebebasan insani ini nikmat atau azab?
Aliran akhir-akhir ini yang justru membingungkan umat islam itu sendiri harus diungkap walau sekilas agar jamaah yang hadir (juga termasuk di dalamnya personel MUI, POLRI, dan TNI) dapat mendengar paparan khatib. Ucapan khatib akan lebih jelas ketika dikaitkan dengan macam-macam kebebasan sehingga tampak jelas macam kebebasan yang mana yang kerap memunculkan kerawanan masyarakat manakala kebebasan insani tidak disandarkan pada Al Quran dan As Sunnah. Di bagian ini harusnya khatib menguraikan macam kebebasan mana yang sering dilanggar jamaah shalat Idul Fitri 1436 H Masjid Al Akbar Surabaya dan macam kebebasan mana yang sering dilaksanakan jamaah shalat Idul Fitri 1436 H Masjid Al Akbar Surabaya. Inilah fungsi khutbah di hadapan jamaah shalat, membeber sesuatu yang tidak sesuai dengan syariat islam agar tahu bahwa sesuatu yang tidak sesuai dengan syariat islam itu bakal mengakibatkan fasaad fil ardhi,untuk berikutnya jamaah tidak melakukannya, lalu ditunjukkan dalilnya sehingga jamaah shalat mendapat tambahan ilmu dan tambahan wawasan dari khatib.

Admin sangat khawatir jangan-jangan persepsi khatib selama ini salah dalam mencermati aliran-aliran yang ada di Indonesia akhir-akhir ini sehingga suatu aliran yang sudah mapan menurut Al Quran dan As Sunnah dipandang sebagai aliran yang membingungkan umat hanya karena kurangnya perangkat keilmuan khatib dalam mencermatinya. Ini harus diperjelas…!!!

Lebih mendalam lagi kita membedah ucapan khatib yang lain berikut ini:
“…banyak contoh bisa diamati setelah menggunakan kebebasan memeluk islam dengan membaca dua kalimah syahadat tidak senantiasa diikuti dengan memeluk islam secara menyeluruh atau kaaffah sehingga terjerumus dalam kefasikan.”
Admin memandang bahwa ucapan ini masih sekedar teoritis yang bersifat umum, perlu diperjelas dengan contoh nyata yang sederhana, mestinya harus disertai contoh aktual akhir-akhir ini agar ucapan tersebut berkesinambungan dengan “…munculnya aliran akhir-akhir ini yang membingunkan umat islam…” dan bisa menjadi penguat statement-nya. Khatib menyatakan “banyak contoh” berarti dengan mudah khatib bisa menyertakan satu contoh sebagai penguat statement-nya, kok malah justru tidak ada contoh sama sekali. Apa saja contohnya, kok bisa-bisanya khatib mengatakan “banyak”?

Mari kita perhatikan 2 ucapan khatib yang berdekatan:
1. “banyak contoh bisa diamati setelah menggunakan kebebasan memeluk islam dengan membaca dua kalimah syahadat tidak senantiasa diikuti dengan memeluk islam secara menyeluruh atau kaaffah sehingga terjerumus dalam kefasikan.”.
2.”Juga banyak contoh betapa manusia tidak mampu menjaga kehormatan dirinya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat tetapi hati dan perilakunya lebih mendekati kaum kafir hingga terjerumus dalam kemunafikan.”.
Admin memandang bahwa dua ucapan yang berdekatan ini justru menimbulkan pertanyaan besar. Admin ingin tahu hati dan perilaku yang mana yang dikatakan lebih mendekati kaum kafir? Apa maksudnya khatib menyertakan ucapan ini dalam khutbahnya sehubungan tema mensyukuri nikmat kebebasan insani? Apakah ucapan ini mendukung tema ini, admin pikir tidak begitu mendukung tema khutbah.
Berdasarkan dua ucapan yang kita simak tersebut ternyata khatib shalat Idul Fitri 1436 H Masjid Al Akbar Surabaya tidak sanggup menguraikannya dan memberikan contoh nyata sekitar kehidupan jama’ah masjid al akbar atau kehidupan masyarakat Jawa Timur.
Admin memandang bahwa khatib seneng banget mengobral statement yang bersifat negatif, namun tidak diiringi contoh negatif yang terjadi di masyarakat. Ketika khatib menyertakan statement negatif serta merta khatib harus menunjukkan statement positifnya atau solusinya agar kejadian-kejadian negatif di masyarakat sebagaimana yang dimaksud dalam statement negatifnya tidak berkelanjutan di waktu mendatang, justru inilah yang dibutuhkan para jama’ah shalat idul fitri yang tergabung di antaranya para polisi, para pamong, para satpol pp, para militer, dan para pengambil kebijakan yang berkaitan dengan statement negatifnya. Karena solusi dari seorang professor sangat dibutuhkan oleh beliau untuk dijadikan bahan tambahan referensi solusi. Kenyataannya khatib hanya gembar-gembor doank, gembar-gembornya penuh kehampaan. Benar-benar tidak fair….!!!!!!!!!

Selanjutnya kita simak ucapan khatib berikut: “sebagai konsekuensi logis syahadat kita dengan menunaikan segala kewajiban sebagai umat muslim” ada kesalahan dalam penyebutan “kita” yang diiringi kata “umat muslim”, semestinya di awal disebutkan kata “kita “ berikutnya harus disebutkan “kaum muslimin” biar nggak amburadul bahasanya, gak morat-marit bahasa indonesianya maupun bahasa arabnya. Camkanlah baik-baik:
1.umat islam bukan “umat muslim”.
2.kaum muslimin bukan “kaum muslim”.
Istilah “muslim” berasal dari bahasa arab yang bermakna seorang laki-laki beragama islam. “muslimiin” merupakan bentuk jamak mudzakkar saliim pada posisi nashab dan jar, sedangkan “muslimuun” bentuk jamak mudzakkar saliim pada posisi rafa’, baik “muslimiin” maupun “muslimuun” bermakna sama yaitu orang-orang laki-laki yang memeluk islam. “muslim” memiliki akar kata dari fi’il madhi “aslama”, bila di-tashrif ishtilahiy menjadi “aslma yuslimu islaaman wa muslaman fa huwa muslimun wa dzaaka muslamun aslim laatuslim muslamun muslamun” yang mengikuti wazan af’ala yuf’ilu (tashrif ishtilahiy:“af’ala yuf’ilu if’aalan wa muf’alan fa huwa muf’ilun wa dzaaka muf’alun af’il laatuf’il muf’alun muf’alun”. Kemudian Aslama memiliki akar kata fi’il madhi Salima. Salima bila di-tashrif ishtilahiy menjadi Salima yaslamu salaaman(salaamatan) wamaslaman fahuwa saalimun wadzaaka masluumun islam laataslam maslamun maslamun yang mengikuti wazan fa’ila yaf’alu (tashrif ishthilahiy:Fa’ila yaf’alu fa’lan wamaf’alan fahuwa faa’ilun wadzaaka maf’uulun if’al laataf’al maf’alun maf’alun).
Dalam aplikasinya bila yang hadir adalah sejumlah banyak jamaah perempuan dan laki-laki, maka gunakan saja “muslimiin” untuk khutbahnya, maka isim jamak mudzakkar saliim harus dimenangkan untuk pemakaian penyebutan istilah kepada seluruh yang hadir baik laki-laki maupun perempuan. Dalam khutbahnya, khatib merujuk ke seluruh jamaah shalat, untuk menyeru menunaikan segala kewajiban.

Berikutnya perhatikan dua ucapan berdekatan ini:
1.”Juga banyak contoh betapa manusia tidak mampu menjaga kehormatan dirinya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat tetapi hati dan perilakunya lebih mendekati kaum kafir hingga terjerumus dalam kemunafikan”.
2. “sebagai konsekuensi logis syahadat kita dengan menunaikan segala kewajiban sebagai umat muslim”
Dua ucapan tersebut nampak tidak konsisten, pada ucapan 1 khatib menyebut “dua kalimat syahadat”, sedangkan pada ucapan 2 khatib menyebut “syahadat” dengan entengnya khatib membuang kata-kata “dua kalimat”.


Pada akhir khutbah I khatib mengucapkan begini ”… khususnya menyangkut dosa dan kesalahan antar sesama manusia hanya terampuni bila sudah saling diikhlaskan satu sama lain……..”
Admin memandang bahwa sebaiknya ucapan “diikhlashkan satu sama lain” sebaiknya diganti dengan “saling memaafkan satu sama lain”

Ketidakkonsistenan khatib juga tampak pada saat menyebutkan istilah “surga dan pakaian sutra” yang tidak dibacakan ayat Al-Qurannya, padahal sebelumnya ayat Al Quran juga dibacakannya.

Kesalahan penyebutan “propinsi jawa timur ini.” juga di lakukan khatib di akhir khutbah I. Pemerintah Provinsi Jawa Timur secara resmi sudah menggunakan istilah “Provinsi Jawa Timur”.
Sekarang istilah “propinsi” sudah berubah menjadi “provinsi”.

Pembedahan mengenai bahasa arabnya Prof. Dr. H. Mudjita Rahardjo.
1.kesalahan besar pada nahwu sharaf level dasar:
Allaahummaghfirlanaa wa li waalidiinaa
Warham humaa kamaa rabbayaniy shagiiraa,
Waalidiina merupakan isim yang di-jar-kan oleh harf jar li.
Humaa sebagai dhamir (kata ganti) untuk dua orang.
Niy pada rabbayaaniy dhomir untuk orang yang berbicara.
Bentuk jamak (plural) “Waalidiin” dan “waaliduun” berasal dari bentuk mufrad (singular) “waalidun”
Di bagian humaa kamaa rabbayani shagiiraa tidak sesuai dengan wa li waalidiinaa. Kesalahan besar telah dilakukan oleh khatib (orang yang khutbah).
Waalidiiina menunjukkan jamak (merujuk ke banyak orang tua) tetapi pada saat warham justru diikuti huma (yang merujuk ke dua orang) mestinya wajib menggunakan “hum” untuk mengimbangi waalidiina, lalu kamaa rabbayaani shaghiira tidak sesuai dengan waalidiina, mestinya wajib menggunakan rabbauna shighaara, sehingga doa selengkapnya menjadi “Allaahummaghfirlanaa wa li waalidiinaa
Warham hum kamaa rabbawnaa shighaara”.
Doa yang sudah direvisi admin ini sangat cocok untuk para imam atau khatib yang berdoa buat dirinya dan seluruh jamaah.

Penyebutan Al Addiniyyah juga suatu kesalahan besar dilakukan khatib. Akar kata dari al addiniyyah adalah diinun atau diinin atau diinan, perhatikan diinun atau diinin atau diinan dalam suatu kalimat dipandang sebagai isim nakirah, lalu diinun berubah menjadi diiniyyah, supaya menjadi isim makrifah diiniyyah dibubuhi awalan al sehingga dibaca ad diiniyyah. Addiiniyyah dalam kaidah bahasa arab tidak bisa dibubuhi awalan al karena tidak diperbolehkan membubuhkan awalan al dua kali berturut-turut berjajar. Awalan al menyatu dengan diin yang ketika dilafalkan awalan al luluh menjadi ad dalam suaranya walau dalam tulisannya masih al ini karena pengaruh pelafalan yang kalau dijelaskan dengan kaidah tajwid akan gamblang menggunakan idgham syamsiy, dal termasuk golongan huruf-huruf syamsiyah, Ketika huruf-huruf syamsiyah termasuk di dalamnya dal diawali dengan al tentu pengucapan al menjadi hilang.
Khatib juga salah menyebut Al Ra’d. Walaupun dalam tulisan arab al terlihat jelas mendahului ra, pengucapan al luluh menjadi r karena al bertemu denga ra yang mana ra adalah huruf yang tergabung dalam huruf-huruf syamsiyah sehingga pengucapan al ra’du haruslah arra’du.

Pelafalan Baarakallaahu dilafalkan pendek pada bagian baa oleh khatib. Khatib memendekkan baa padahal ini sangat berbahaya ketika wazan fi’il faa’ala dibaca fa’ala. Beda kan?
Baarakallaahu harus dibaca panjang untuk baa-nya. Baaraka mengikuti wazan fi’il faa’ala bukan wazan fi’il fa’ala. Dalam kaidah sharaf Fa’ala berbeda dengan Faa’ala.
Solusi untuk kesalahan 1 yang ditawarkan Admin:
Khatib harus belajar sharaf level dasar karena permasalahan tersebut hanya berkisar pada penguasaan bahasa arab bidang sharaf level ibtidaiyyah, cukup gampang mempelajari sharaf yang berkaitan dengan dhamir dan fiil, satu bulan intensif sudah bisa dikuasai, apalagi kalau khatib lulusan madrasah aliyah tentulah cukup satu minggu saja untuk mencermati susunan kalimatnya apakah antara dhamir dan fiil dalam jumlatun-nya sudah ada kesesuaian atau belum, tidak sampai berbulan-bulan
Tempat belajar nahwu sharaf: di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA), walaupun admin bukan lulusan sarjana UINSA, bukan lulusan magister UINSA, atau bahkan bukan pula lulusan doktoral UINSA, setidaknya admin tahu persis keberadaan pusat belajar bahasa arab yang memadai sudah tersedia di UINSA. Admin pikir untuk sekelas Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bisa mengakses keberadaan pusat pembelajaran bahasa arab UINSA dengan mudah dan cepat. Jarak Malang–Surabaya sangat dekat ketimbang jarak Surakarta-Surabaya atau jarak Jakarta-Surabaya.

2.kesalahan besar pada intonasi,
Intonasi yang dipakai tidak mengacu ke logat asli orang arab asli suku quraisy menyebabkan pelafalan kosa kata yang jamak (plural) sama dengan mufrad (singular), kosa kata yang pelafalannya panjang menjadi pendek, padahal dalam bahasa arab saya memperhatikan dialog orang asli arab, untuk kosa kata panjang yang memuat mad thobi’iy atau mad lazim pasti dilakukan penekanan yang agak lama walaupun tidak selama (sepanjang) bacaan mad thobi’iy atau mad lazim dalam tartil quran.
Bayangkan ketika waalidiiina di baca dengan logat jawa atau masyarakat indonesia setempat dan diikuti intonasi cepat, berakibat fatal kan… waalidiina menjadi kedengaran walidina yang bisa ditafsirkan bukan jamak. Begitu pula baarakallaahu dibaca dengan logat jawa atau masyarakat indonesia setempat dan diikuti intonasi cepat, berakibat fatal, yaitu baarakallaahu menjadi kedengaran barakallahu.
Solusi untuk kesalahan 2 yang ditawarkan admin:
Khatib harus sering membuka internet yang berkaitan dengan ucapan asli arab agar tahu intonasinya orang arab asli dan tempat tinggal asli Saudi Arabia, Mesir, Yordan, Oman, Kuwait, Dubai, dan lainnya.
Khatib harus sering membiasakan intonasi pembacaan Al Quran yang diterapkan ke dalam bahasa arab sehari-hari supaya panjang pendeknya terjaga. Banyak kosa kata arab formal yang diluar Al Quran yang ketika pelafalannya panjang dipendekkan berakibat salah maknanya.
Khatib jangan terpancing dengan anggapan bahwa berbahasa arab yang bukan ayat suci Al Quran tidak wajib memakai kaidah tajwid. Kita sering mendengar banyak orang yang belajar bahasa arab mempercayai pancingan tersebut. Pancingan tersebut keliru besar, coba perhatikan contoh ini Shadaqah dengan Shadaaqah, dua kata ini punya makna berbeda sekaligus berbeda dalam hal pelafalannya serta berbeda dalam hal tulisan arabnya. daa pada contoh kedua (shadaaqah) harus dipanjangkan, daa pada contoh kedua (shadaaqah) tersusun dari dal dan alif, sedangkan pada contoh pertama (shadaqah) dal tidak diikuti alif.
Tempat belajar: Bisa di rumah professor sendiri sambil browsing internet di kamarnya, bisa juga di kantor dinas professor, yang penting di tempat itu tersedia peralatan untuk nyambung ke internet dengan sinyal kuat.

3. Kesalahan shifaatulhuruuf dan makhaarijulhuruufj.
Kesalahan shifaatulhuruuf dan makhaarijulhururrf telah dilakukan oleh khatib sebagai berikut:
Insyaa allaah: lafal sy dibaca tidak sesuai makhraj dan shifatnya, mestinya sy harus keluar dari lidah bagian tengah dengan langit-langit di atasnya tetapi ini tidak dilakukan oleh khatib.
Laa syariikalahu: lafal sy dibaca tidak sesuai makhraj dan shifatnya.
Asyhadu: lafal sy dibaca tidak sesuai makhraj dan shifatnya.
Ashiilaa: lafal shad dibaca tidak sesuai makhraj dan shifatnya.
Sholli wa sallim: lafal shod dan sin tidak ada bedanya, semuanya dibaca sama, padahal kedua huruf itu berbeda.
Abduhuu: lafal ‘ain dibaca tidak sesuai dengan makhraj ‘ain dan shifatnya.
Aakhiratu: lafal kha’ dibaca tidak sesuai makhraj dan shifatnya.
Hurriyah yang berasal dari kata hurriyatun: untuk harfun ha dibaca sama dengan ha, padahal harf ha pada lafaz hurriyah (yang bermakna kebebasan atau kemerdekaan) termasuk harf halqi tengah, pengucapannya harus keluar dari tenggorokan tengah, sama keluarnya dengan harf ‘ain. Di dalam Al Quran hanya ada dua harfain yang keluar dari tenggorokan tengah yaitu ha (misalnya pada lafazh rahiimun atau hurriyatun) dan ‘ain (misalnya pada lafazh ‘aliimun hakiimun)

Qad: lafal dal mati tidak dibaca qalqalah sughra oleh khatib.
Dzakaro: lafal dzal dibaca tidak semestinya.
Samii’un qariibun mujiibu : lafal sa dibaca kaku dan keseleo.

Khatib membaca doa secara langsung mengambil ayat suci Al Quran Surah Ali ‘Imran ayat 194 tanpa diedit sedikit pun, satu ayat utuh dijadikan sebagai doa “Rabbanaa wa aatinaa maa wa’attanaa ‘alaa rusulika wa laa tukhzinaa yaumal qiyaamah, innaka laa tukhlifulmii’aad”.: doa ini diambil langsung dari Al Quran Surah Ali ‘Imran ayat 194, sama sekali tidak diubah redaksinya, tetapi lafal tukhlifu untuk kha tidak dibaca semestinya, khatib melafalkan mirip ha padahal harus ditampakkan ngoroknya keluar dari tenggorokan atas, lafal mii’aad untuk ‘ain khatib tidak mengeluarkan suaranya dari tenggorokan tengah. Untuk ‘aad harf dal disukun khatib tidak membacanya dengan bacaan tajwid qalqalah kubra (pada qalqalah tingkat a’la). Harus berguncang keras atau memantul kuat. Pada lafal mii’aad untuk ‘aa harus dibaca panjang karena ini termasuk bacaan mad ‘aridl lissukuun yang maksudnya bila ada mad (panjang) disukun karena waqaf (berhenti) maka mad tersebut harus dibaca panjang sepanjang mad thabi’iy (1 alif=2 harakat) atau bisa juga dua alif atau bisa juga tiga alif.
Solusi kesalahan 3 yang ditawarkan Admin:
Khatib harus belajar kembali bahasa arab level dasar dan belajar membaca Al Quran sesuai dengan tajwid,
Bergurulah kepada para huffadz Al Quran yang banyak bertebaran di seluruh tanah air, tidak sulit menemukan guru yang mahir tartil quran dengan tajwidnya yang fasih, bahkan di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang pun juga banyak mahasiswa yang mahir tartil quran. Jangan ada rasa malu. Walaupun sudah guru besar tapi kalau tartil qurannya jelek amburadul ya wajib berguru kepada orang yang ahlinya biarpun ahlinya nggak bergelar professor atau nggak bergelar Magister atau nggak bergelar Doktoral. Ingatlah sesuatu yang dilakukan tanpa ilmu berakibat sia-sia amal perbuatannya. Ingatlah sesuatu yang tidak dikerjakan oleh ahlinya ya tunggulah kehancurannya.
Tempatnya belajar: bisa di UIN SUNAN AMPEL (UINSA) dan UIN MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG. Admin juga mengetahui di UINSA juga banyak kelompok mahasiswa huffadz, jadi Prof.Dr.Mudjita Rahardja juga bisa berkunjung ke UINSA untuk mencari guru atau partner yang cocok buat latihan pengucapan makhaarijul huruuf hijaaiyyah dalam rangkaian ayat suci Al Quran.
Dari data beberapa kesalahan tersebut
Admin menyimpulkan sementara ini bahwa khatib tidak bisa bahasa arab dilihat dari .
Intonasinya yang sama sekali tidak menunjukkan sanggup berbahasa arab.
Kaku dalam melafalkan kosa kata arab.
Tampak sangat kaku dalam membaca ayat suci Al Quran, faktanya khatib membaca Al Quran tidak sesuai dengan tajwidnya sehingga dalam khutbah tartilnya tampak jelek (amburadul).

Demikianlah pembedahan yang telah dilakukan oleh admin selama dua minggu sejak 2 Syawal 1436 H (Jumat 18 juli 2015) mulai dari mengubah dari suara di rekaman ke bentuk ketikan dengan ketikan manual, mendengarkan rekaman berulang-ulang agar tidak keliru, membaca hasil ketikan berulang-ulang agar tidak salah, mencocokkan dalil Al Quran ke mushaf Al Quran, mencocokkan bahasa arabnya, lalu membedah isinya, lalu mengetik hasil pembedahan khutbah idul fitri dengan manual, membaca ulang ketikan hasil pembedahan, dan yang terakhir meng-upload (mengunggah = memposting) ke blog Masjid Al Hikmah Kebonsari Surabaya dan facebook Masjid Al Hikmah Kebonsari Surabaya.
Semoga hasil bedah khutbah ini bermanfaat buat para khatib jumat, para khatib idul adha, para khatib idul fitri, dalam suasana formal atau informal di waktu mendatang.



Rumusan beberapa pertanyaan yang sudah disusun admin sebelum melakukan pembedahan khutbah. Admin yakin rumusan beberapa pertanyaan berikut bisa memandu pembaca dan para jamaah yang sudah mengikuti khutbah Idul Fitri 1436 H di Masjid Al Akbar Surabaya untuk mencermati isi khutbah bahkan untuk membedah khutbah Idul Fitri 1436 H Masjid Al Akbar Surabaya lebih detail atau lebih mendalam..
1.Nikmat allah itu apa saja?
2.Apa maksudnya kebebasan insani?
3.Apa dalil kebebasan insani?
4.Apa dalil mensyukuri nikmat kebebasan insani?
5.Mensyukuri kebebasan insani harus dilakukan kapan?
6.Mensyukuri kebebasan insani harus dilakukan dimana?
7.Cara-cara mensyukuri kebebasan insani?
8.Sejauh mana kebebasan insani yang sudah diterapkan oleh kaum muslimin selaku masyarakat lokal, kebebasan insani selaku masyarakat regional, kebebasan insani selaku masyarakat nasional, dan kebebasan insani selaku masyarakat internasional?
9.Apa akibatnya ketika kebebasan insani itu diterapkan oleh seorang muslim?
9.Apa akibat orang yang tidak mensyukuri nikmat kebebasan insani di dunia baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, dan negara?
10.Dimana jurang pemisah kebebasan insani akhir-akhir ini (tentunya harus diungkap)?
11.Apa penyebab orang melakukan kebebasan insani?
12.Mengapa orang tidak melakukan kebebasan insani?
13.Banyak jama’ah shalat idul fitri 1436 h masjid al akbar surabaya yang mudik ke kampung halaman usai shalat idul fitri, apakah mudik beridul fitri usai shalat idul fitri di masjid al akbar sudah merupakan mensyukuri nikmat kebebasan insani?
14.Dari macam-macam kebebasan insani, yang mana yang bersifat berkelangsungan dan berkesinambung antar ramadhan, idul fitri, dan pasca ramadhan? Mana yang jarang dilakukan kaum muslimin? Mengapa jarang dilakukan? Apakah tidak bisa dilakukan lebih sering lagi?
15.Apakah isu terbaru yang berkembang di masyarakat jawa timur atau indonesia sekarang ini merupakan bagian dari kebebasan insani? Mengapa? Apakah harus disyukuri?
16. Sampai seberapa besar kebebasan insani yang sudah dilindungi oleh pancasila?
17.Sampai seberapa besar kebebasan insani yang jauh melenceng dari nilai-nilai pancasila dan nilai-nilai al quran dan as sunnah?

CATATAN ASLI KHUTBAH IDUL FITRI 1436 H MASJID AL AKBAR SURABAYA
MENSYUKURI NIKMAT KEBEBASAN INSANI
Oleh
Prof. Dr. H.Mudjia Rahardjo, M.Si.
REKTOR UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
(diketik oleh admin sendiri)

Khutbah I
Assalaamu’alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Allaahu akbar 3x
Allaahu akbar 3x
Allaahu akbar 3x
Allaahu akbar kabiira, wal hamdu lillaahi katsiiraa
Wa subhaanallaahi bukratan wa ashiilaa.
Laailaaha illaallaahu wallaahu akbar, allaahu akbar walillaahil hamd.
Alhamdulillaahilladzii ja’alanaa ayyaamu li’iidil fithri li ‘ibaadihishshaalihiin,
Waja’alanaa minal masruuriin, wa nahnu insyaa allaah minal aaidiin wal faaiziiin,
Asyhadu an laa ilaaaha illa allaah wahdahuu laa syariikalah.
Wa asyhadu anna muhammadan abduhuu wa rasuuluhu.
Allaahumma sholli wa sallim wa baarik ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa ‘alaa aaliihi wa ashaabihi ajma’iin.
Robbisy rohliiy shodriiy wayassirliiy amriiy wahlul ‘uqdatan min lisaaani yafqohuu qawliiy.
Amma ba’du
Fa yaa ayyuha alhaadliruun, uusiikum wa iyaaya bitaqwallaah.
Fa qod faazalmuttaquun,
Fa qaala allaahu ta’aalaaa fi kitaabihil kariiim
Bismillaahirrahmaanirrahiiim
Qad aflaha man tazakkaa, wa dzakarosmarobbihii fa sholla. Bal tu’ tsiruuunal hayaataddunyaa wal aakhiratu khairu wa abqa.

Ma’aasyiral muslimiin rahimakumullaah,
Marilah kita tidak henti-hentinya senantiasa memanjatkan rasa syukur yang mendalam.Allah telah memberikan kepada kita berbagai karunia dan nikmat lebih-lebih nikmat berupa iman dan islam yang selama ini kita pegang teguh.
Dengan iman dan islam insya allah kita semua selamat dunia dan akhirat.
Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan nabi kita nabi besar muhammad saw pada keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikutnya.

Hadirin rahimakumullah.
Seperti tahun-tahun hijriyah sebelumnya sejak memasuki bulan syawal ramai umat islam bersedekah, tak hanya berupa pemberian bahan pangan, sandang, dan uang kepada saudara-saudara yang patut disantuni, tetapi juga sedekah bentuk lain yang semakin semarak hingga pelaksanaan shalat idul fitri khususnya berupa bacaan takbir, tahlil, dan tahmid sebagaimana dijelaskan dalam sebagian hadits berikut:
Atas setiap ruas tulang dari seorang di antara engkau semua pada setiap pagi harus ada sedekahnya masing-masing, maka setiap sekali bacaan tasbih adalah sedekah, setiap sekali bacaan tahmid adalah sedekah, setiap sekali bacaan tahlil adalah sedekah, setiap kali bacaan takbir adalah sedekah, memerintahkan kepada kebaikan juga sedekah, mencegah dari kemungkaran juga sedekah, dan keseluruhannya itu dapat dicukupi oleh dua rokaat yang dikerjakan oleh seorang itu dari shalat dhuha.
Bacaan takbir mengagungkan Allah, bacaan tahlil mengesakan Allah, sedangkan bacaan tahmid memuji Allah subhaanahuwata’aala.

Allaahu akbar 3x
Laa ilaaha illallaah huwallaahu akbar
Alaahu akbar walillaahil hamd.

Ma’aasyiral muslimiin rahimakumullaah.
Selepas menjalani puasa wajib dan sejumlah amalan sunnah selama bulan ramadhan.
Sungguh masih sangat penting untuk membaca kembali dan merenungi makna dan maksud perintah berpuasa ramadhan sebagaimana dalam firman Allah.
Bismillaahirrahmaanirrahiiim,
Yaa ayyuhalladziina aamanuu kutiba ‘alaikumushiyaamu kamaa kutiba ‘alalladziina minqablikum la’allakum tattaquun.
Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
Bila tujuan perintah ini dibaca secara kotekstual dalam arti tidak lepas dari teks-teks sekitarnya, maka sangat jelas bahwa perintah berpuasa ramadhan merupakan jalan menuju keberuntungan atau muflihuun.
Selain sebagaimana lazim ditafsirkan
Ada beberapa pesan sangat penting tersirat dalam rangkaian ayat tersebut,
Pertama, kebertakwaaan merupakan derajat tertinggi keberislaman seorang manusia,
Kedua, kebertakwaan memiliki sejumlah penanda terutama menjadikan Al Quran sebagai petunjuk atau huda dalam menjalani kehidupan,
Ketiga, kebertakwaan merupakan jalan ditunjukkan oleh Allah kepada manusia untuk menuju keberuntungan,
Mempertimbangkan hubungan langsung antara kebertakwaan dengan kebahagiaan tersebut maka sama sekali tidak salah apabila sejumlah masyarakat jawa menyebut bahwa islam tidak lain merupakan ilmu kabegjan sejati.
Mereka meyakini bahwa hanya dengan ilmu dan amal menurut ajaran islam, manusia bisa mencapai keberuntungan, kabegjan, atau kebahagiaan.

Hadirin rahimakumullaah,
Setingkat di bawah derajat takwa adalah ikhlash,
Ikhlash pada dasarnya merupakan sikap dan perilaku yang memadukan antara dua akhlak mulia menurut islam yaitu syukur dan sabar.
Selain mempertanyakan secara berulang
Nikmat mana lagi yang manusia dustakan,
Fabiayy alaa irabbikumaa tukadzibaan
Janji sekaligus ancaman Allah terhadap manusia yang lalai bersyukur juga sangat jelas
La insyakartum laazidannakum walaa in kafartum inna ‘adzaabii lasyadiid.
Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti kami akan menambah nikmat kepadamu dan jika kamu mengingkari nikmatku maka sesungguhnya azabku sangat pedih.
Syukur secara sederhana adalah mengakui dan memuji kemahamurahan, menghargai dan memanfaatkan secara bertanggung jawab seluruh karunia Allah.
Sedangkan
Sabar adalah menerima segala kejadian terutama musibah dengan sikap berserah diri tanpa berprasangka buruk kepada Allah. Serta tidak berputus asa dalam berusaha dan berputus asa terhadap rahmat Allah.

Selain berulang kali menegaskan keberpihakan Allah kepada orang-orang yang senantiasa bersabar, janji allah terhadap sikap dan perilaku sabar juga sangat jelas yang di dalam Al Quran dalam Surah Al Insan ayat 12 disebutkan berupa surga dan busana sutra.
Sedangkan dalam Surah Al A’rad.23-24 disebutkan sebagai berikut bismillaahirrahmaanirrahiiim jannaatu adnin yadkhuluhaa wa man shalaha min aabaaihim wa azwaajihim wa dzurriyaatihim.
Kembali kepada pengertian ikhlash yang dibaca secara koteksual.dengan rukun iman keenam maka ikhlas berarti tidak hanya mengakui kekuasaan allah dalam menetapkan apapun kejadian baik maupun buruk menurut kita tetapi juga menjadikan setiap kejadian baik musibah maupun anugerah sebagai jalan untuk mendekatkan diri kepada allah swt.
Dalam musibah kita mendekat kepada Allah melalui sikap dan perilaku sabar, sedangkan dalam anugerah kita mendekat kepada Allah melalui sikap dan perilaku bersyukur.
Seseorang dengan jiwa dan semangat keihlasan akan melihat kehidupan secara sederhana ke dalam lima langkah:
Pertama, menetapkan dan memperbaiki niat, kehendak, atau tujuan baik setiap usaha.
Kedua, mengupayakan sekuat tenaga dan pikiran untuk mewujudkan niat baik tersebut.
Ketiga, meminta atau berdoa sepenuh keyakinan kepada Allah agar bisa mewujudkan niat baik tersebut.
Keempat, bersyukur bila berhasil mewujudkan niat baik tersebut.
Yang kelima adalah bersabar bila gagal mewujudkan niat baik tersebut.
Bisa kita garis bawahi kembali bagi kaum muhlisin keberhasilan dan kegagalan anugerah dan musibah semata-mata merupakan cara Allah SWT untuk memberi kesempatan kepada manusia untuk mencapai dua pekerti paling mulia menurut Allah  yaitu bersyukur dan bersabar.
Menyatunya dua pekerti mulia, syukur terhadap nikmat dan sabar terhadap musibah, demikian yang menurut hemat saya menjadi inti dari sikap dan perilaku ikhlash, suatu derajat keberislaman yang setingkat di bawah dan niscaya sudah dimiliki oleh siapa pun yang mencapai derajat ketakwaan sebagaimana tujuan akhir ibadah puasa.
Kini marilah bersama-sama kita mencermati sejumlah kekhususan manusia dibanding makhluk lain agar semakin dalam kita mengenali diri kita ini sesungguhnya siapa, agar semakin jelas betapa istimewa tetapi juga sangat rawan kedudukan kita sebagai manusia, juga agar semakin kuat kehendak kita untuk senantiasa bersyukur atas nikmat Allah yang diberikan kepada kita sekalian.

Ma‘aasyiral muslimin rahimakumullah.
Kendati tak terhitung jumlah dan uraian tentang nikmat yang diberikan Allah kepada manusia sangat jarang perhatian diberikan kepada nikmat berupa kebebasan insani.
Lebih memprihatinkan lagi nikmat kebebasan insani yang sangat mendasar ini cenderung digunakan secara bertentangan dengan pengertian syukur sebagaimana kesadaran dan tindakan mengakui memuji kemahamurahan, menghargai serta memantaatkan segala karunia Allah secara bertanggung jawab.
Salah satu sumber penalaran dan kebebasan yang diberikan kepada manusia bahkan dalam beragama adalah firman Allah sebagai berikut :
Laa ikraaha fiddiin
Qad tabayyana rusydu minal ghayy.
Tidak ada paksaan untuk memasuki agama, sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.
Sumber lain yang juga menegaskan kebebasan untuk memilih apakah akan beriman atau tidak adalah firman Allah di dalam surah al kahfi yang artinya dan katakanlah kebenaran itu datangnya dari tuhanmu. Wa qulilhaqqu min rabbikum faman syaa- a fal yukmin wa man syaa a fal yakfur,
Dan katakanlah kebenaran itu datangnya dari tuhanmu, maka barang siapa yang ingin beriman hendaklah ia beriman dan barang siapa yang ingin kafir biarlah ia kafir.
Sesungguhnya kami telah sediakan bagi orang-orang dhalim itu neraka yang gejolaknya mengepung mereka dan jika mereka meminta minuman niscaya mereka akan diberi minum dengan air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan muka, itulah minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek (Al Quran Surah Al Kahfi ayat 29).

Kalau para pemikir barat memiliki dan menguraikan pengertian freedom, independence, liberty,
Hasanah pengetahuan islam lebih tertarik kepada istilah hurriyah dan ikhtiyar.
Dua arah kebebasan tergambar dalam konsep hurriyah yaitu kebebasan internal atau hurriyah dzarriyah berupa kuasa memilih sejumlah pilihan misalnya dua pilihan berbeda dan bahkan saling bertentangan, dan dua adalah kebebasan eksternal atau hurriyah khaarijiyyah berupa tidak adanya rintangan pihak luar bagi manusia untuk melakukan sesuatu.

Kebebasan internal manusia terkesan dari penggunaan istilah
Kebebasan berkehendak hurriyah alirodah,
Kebebasan nurani hurriyah addhomir,
Kebebasan diri hurriyah annafs,
Kebebasan etika hurriyah al adabiyah,
Sedangkan kebebasan eksternal manusia terkesan dari penggunaan istilah
Attarbiyah atau kebebasan seturut fithrah manusia,
Assiyasiyah atau kebebasan yang dijamin dalam peraturan perundang-undangan,
Al addiniyah adalah kebebasan memiliki keyakinan dan madzhab keagamaan.

Masih dari hasanah pemikiran islam kebebasan manusia juga diungkapkan dengan istilah ikhtiyar. Berbeda sangat mencolok dari pemikiran barat,
Kebebasan berikhtiyar menurut islam bertautan erat dengan akar katanya yaitu kebaikan atau khair. Karena itu sebagai muslimin sudah semestinya tidak menceraikan istilah dan makna kebebasan dan ikhtiyar dari istilah dan makna kebaikan.
Kebebasan tidak lain adalah hak untuk memilih kebaikan dari keburukan dan atau memilih yang terbaik dari berbagai kebaikan lain.
Perilaku memilih keburukan ketimbang kebaikan bukan merupakan wujud kebebasan.


Hadirin rahimakumullah.
Umat manusia sekarang sedang dihadapkan pada pemaknaan secara semena-mena terhadap makna nikmat kebebasan sejati sebagaimana digariskan dalam firman Allah tersebut.
Manusia sering lalai untuk menggunakan nikmat kebebasan tersebut secara bertanggung jawab.
Kebebasan senantiasa bermata dua yang bila dipahami dan digunakan secara bertanggung jawab akan menghasilkan kebaikan dan akan menghasilkan keburukan bila digunakan secara tidak bertanggung jawab sehingga muncul berbagai aliran akhir-akhir ini yang justru membingungkan umat islam itu sendiri.

Manusia juga sering lalai bahwa dibalik kebebasan
Untuk memilih senantiasa ada tanggung jawab.
Banyak contoh bisa diamati setelah menggunakan kebebasan memeluk islam dengan membaca dua kalimah syahadat tidak senantiasa diikuti dengan memeluk islam secara menyeluruh atau kaaffah sehingga terjerumus dalam kefasikan.
Juga banyak contoh betapa manusia tidak mampu menjaga kehormatan dirinya dengan mengucapkan dua kalimat syahadat tetapi hati dan perilakunya lebih mendekati kaum kafir hingga terjerumus dalam kemunafikan.
Karena itu patut kita renungi bersama bahwa nikmat kebebasan sebagai kesanggupan untuk memilih kebaikan dari keburukan merupakan keistimewaan yang diberikan oleh Allah kepada manusia.

Bisa kita bandingkan misalnya antara manusia dengan hewan selain tidak bisa memilih akan menjadi apa-apa baik dalam konteks pekerjaan semisal menjadi dokter, menjadi tentara, menjadi polisi, atau menjadi pedagang, maupun dalam konteks menjadi saleh atau menjadi fasik.
Hewan juga sama sekali tidak bisa menghindar bahkan dari dorongan biologis mereka sendiri.
Bisa disaksikan kapan dan dimana pun seekor hewan menghadapi sesuatu yang merangsang dorongan biologis mereka maka seketika itu pula perilaku dorongan biologis mereka akan muncul
Sama sekali tidak benar bila dikatakan bahwa hewan lebih memiliki kebebasan dibanding manusia karena justru dalam diri hewan tercermin ketidak berdayaan, ketidakmampuan, dan ketidaksanggupan untuk memilih atau bahkan sekedar menunda dorongan biologis mereka.

Walhasil menjadi lebih jelas bahwa derajat kebebasan insani tercermin dari kemampuan dirinya untuk menjadi tuan sekaligus pengendali atas diri sendiri, atas pikiran perasaan dorongan dan nafsu sendiri. Dan inilah inti daripada puasa yang baru saja kita lakukan sepanjang ramadhan.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.
Kini perkenankan saya mengajak diri saya sendiri dan hadirin sekalian untuk mensyukuri nikmat kebebasan kita sebagai manusia secara bertanggung jawab.
Marilah kita maknai dan hayati kebebasan sebagai kemerdekaan dan segala bentuk keburukan dan kejahatan dan kemerdekaan untuk melakukan segala kemuliaan dan kebaikan. Sama sekali tidak pernah ada kemerdekaan untuk melakukan kejahatan dan keburukan.
Marilah senantiasa kita rekatkan diri arti kebebasan sebagai ikhtiyar yang tidak lain adalah kemerdekaan untuk memilih kebaikan atau khair.
Saya mengajak diri sendiri dan hadirin sekalian untuk senantiasa memenuhi segala hak Allah
Sebagai konsekuensi logis syahadat kita dengan menunaikan segala kewajiban sebagai umat muslim.
Marilah kita tegakkan shalat, membayar zakat,
Berpuasa ramadhan dan beribadah haji yang merupakan hak allah swt atas muslim dan muslimah.
Mengakhiri khutbah ini saya mengajak diri sendiri dan hadirin sekalian untuk menyelesaikan segala persoalan yang menyangkut hak adam, hak antar sesama muslim dan antar sesama manusia karena juga sangat jelas bahwa allah swt hanya memperkenankan jannatunnaim kepada siapapun muslim dan muslimah yang memberikan manfaat bagi orang lain juga hak adam khususnya menyangkut dosa dan kesalahan antar sesama manusia hanya terampuni bila sudah saling diikhlaskan satu sama lain.
Secara khusus kepada masyarakat muslim jawa timur dan masyarakat keseluruhan mari kita terus kita pupuk sikap toleran, sikap saling menghargai selama ini sebagaimana telah kita tunjukkan untuk menjaga stabilitas propinsi Jawa Timur ini.
Kita juga sadar bahwa kedewasaan masyarakat jawa timur telah teruji sehingga tidak mudah digoyah oleh berbagai isu-isu yang tidak bertanggung jawab.
Semoga kita semua hadirin sekalian rahimakumullah termasuk dalam golongan orang-orang yang diijabahi oleh Allah.
Semoga kita semua menjadi golongan muhlishin
Semoga kita termasuk golongan muttaqiin
Semoga kita termasuk golongan orang-orang muflihuun,
Baarakallaahu liy wa lakum fil quraanil adhiim
Wa nafa’ani wa iyyaakum bima fiihi min aayaati wa dzikril hakiim.
Taqabbal allaahu minnaa wa minkum tilaawatahu
Innahu huwassamiiul ‘aliim.
Wa qurrabbighfir warham wa anta khairurraahimiin.

Khutbah II
Allaahu akbar 3x
Allaahu akbar 3x
Allaahu akbar 3x
Laa ilaaha illallaahu wa allaahu akbar, allaahu akbar wa lillaahilhamd,
Alhamdulillaahi wahdah shadaqa wa’dah,
Wa nashara abdah
Wa a’azza jundah
Wa hazamal ahzaaba wahdah.
Asyhadu anlaa ilaahaillaallaah wu wah dahuu laa syariikalah
Wa asyhaduanna muhammadan abduhuu wa rasuuluhu laa nabiya ba’dah,
Allaahumma shalli wa sallim wa baarik ‘ala sayyidina muhammadin wa ‘alaa aaliihi wa ashaabihi ajma’iin.

Hadirin rahimakumullah,
Sebelum kita tutup dengan doa, marilah usai ramadhan ini memasuki 1 syawal ini
Kita tetap menghadirkan nilai-nilai puasa, kita tetap menghadirkan nilai-nilai ramadhan yang telah kita miliki selama satu bulan penuh agar insya allah semua kita berakhir dengan khusnul khotimah,
Mudah-mudahan Allah berkenan menerima seluruh ibadah kita, shalat kita, puasa kita, tadarus kita, dan ibadah-ibadah yang lain selama di bulan ramadhan,
Innallaaha wa malaaikatahu yushalluuna ‘alannabiy
Yaa ayyuhalladziina aamanuu shallu ‘alaihi wa sallim mutasliimaa.
Allaahumma sholli wa sallim wa baarik ‘alaa sayyidina muhammadin wa ‘alaa aaliihi wa ashaabihi ajma’iin.
Allaahummaghfir lil muslimiina wal muslimaat wal mukminiina wal mukminaat al ahyaai min hum wal amwaat, innaka samii’un qariibun mujiibu da’waat wa yaa qoodiyahaajaat,
Allaahummaghfirlanaa wa li waalidiinaa
Warham humaa kamaa rabbayani shagiiraa,
Allaahummaghfirlanaa dzunuubanaa wa kaffir ‘annaa sayyiaatinaa wa tawaffanaa ma’al abraar.
Rabbanaa wa aatinaa maa wa’attanaa ‘alaa rusulika wa laa tukhzinaa yaumal qiyaamah, innaka laa tukhlifulmii’aad.
Rabbanaa atinaa fiddunyaa hasanah wa fil akhirati hasanah wa qinaa ‘adzaabannaar.
Wa shallallaahu ‘alaa sayyidinaa muhammadin wa alaa alihi wa shahbihi ajma’iin.
Wal hamdulillaahi rabbil ‘aalamiin.


Demikianlah pembedahan dan catatan asli khutbah Idul Fitri 1436 H Masjid Al Akbar Surabaya,
Salam Idul Fitri,
Admin,
TERIMA KASIH BANYAK KAMI SAMPAIKAN KEPADA BLOGGER YANG TELAH MEMFASILITASI KAMI DALAM PUBLIKASI TULISAN KAMI