Kamis, 16 Juli 2015

Kamis, 16 Juli 2015

BEDAH CERAMAH KH AGUS ALI MASHURI PADA TARAWIH 11 RAMADHAN 1436

Tanggapan terhadap pembaca Blog dan Facebook Masjid Al Hikmah Kebonsari Surabaya, “Mengapa harus ceramah tarawih KH AGUS ALI MASHURI 11 Ramadhan 1436 H yang dipilih sebagai renungan santai bagi pembaca Blog dan Facebook Masjid Al Hikmah Kebonsari Surabaya?”
Berikut ini data paparan dan ulasan Admin yang dikemas dalam judul BEDAH CERAMAH KH AGUS ALI MASHURI PADA TARAWIH 11 RAMADHAN 1436 H
Paparan data dan ulasan dilakukan Admin sebelum memutuskan cocok sebagai pilihan renungan buat pembaca saat ini dan harus dipublikasikan secepatnya.

===================================================================
BEDAH CERAMAH KH AGUS ALI MASHURI PADA TARAWIH 11 RAMADHAN 1436 H
MENGAPA KH AGUS ALI MASHURI DIPILIH PADAHAL BUKAN MAGISTER, DOKTOR, ATAU PROFESSOR?
===================================================================

TEMA : KIAT AMAL IBADAH YANG IKHLASH.
PENCERAMAH: KH AGUS ALI MASHURI (PENGASUH PONPES BUMI SHALAWAT, TULANGAN, SIDOARJO, JAWA TIMUR).
HARI, TANGGAL: MINGGU 28 JUNI 2015 (AHAD, 11 RAMADHAN 1436 H).
TEMPAT : MASJID AL AKBAR SURABAYA.
DURASI : ALOKASI WAKTU CERAMAH YANG DISEDIAKAN 15 MENIT, 
WAKTU : ANTARA BA’DA SHALAT ISYA DAN QABLA SHALAT TARAWIH.
ISI :  ISI CERAMAH TERKAIT DENGAN TEMA.
KELENGKAPAN : SELAMA 15 MENIT CERAMAH MENGURAIKAN TEMA SECARA LENGKAP, SINGKAT, DAN JELAS.
AYAT AL QURAN :  ADA, SESUAI DAN MENDUKUNG TEMA.
AL HADITS :  ADA, SESUAI DAN MENDUKUNG TEMA.
CONTOH SEHARI-HARI :  ADA, SESUAI DAN MENDUKUNG TEMA.
BAHASA: BAHASA YANG DISAMPAIKAN MUDAH DIPAHAMI, BAHKAN MEMILIKI KELEBIHAN MENGGUNAKAN BAHASA SASTRA YANG TINGGI DALAM MENYAJIKAN CONTOH SEDERHANA, NAMUN NILAI SASTRANYA BISA DIPAHAMI OLEH ANAK LEVEL SEKOLAH DASAR HINGGA ORANG DEWASA LEVEL DOKTORAL.
KUPASAN ADMIN:
KH. Agus Ali Mashuri (panggilan akrab, Gus Ali)  mengatakan bahwa untuk beramal ibadah harus didasari dengan ilmu dan iman (Menurut Admin ini sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah)..
Agar ibadah yang dilakukan seseorang bisa dikatakan ikhlash, Gus Ali memaparkan gagasan sederhana sebagai kiat-kiatnya yaitu
1.Berpikir positif
2.Berbaik sangka.
3.Apa yang kita perbuat hari ini, akibatnya akan kita rasakan juga.
Maksud dari gagasan sederhana tersebut adalah
1.Berpikir positif,
Gus Ali menyajikan kiat jitu “Jangan sampai pikiran kita hari ini dihantui kegagalan, jangan sampai pikiran kita hari ini dihantui kesusahan”. Admin berpikir Gus Ali mengatakan pada situasi yang tepat karena situasi saat ini bersamaan dengan menjelang idul fitri yang tentunya orang-orang beramai-ramai membutuhkan tambahan uang untuk merayakan idul fitrinya, bersamaan dengan situasi orang tua menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi yang tentunya dibutuhkan suntikan dana segar, bersamaan dengan harga barang yang cenderung naik, keadaan ini sering kali memaksa orang kelas ekonomi menengah ke bawah dihantui kesusahan. Ungkapan beliau sangat cocok dengan fakta nyata bahwa yang dihadapi Gus Ali saat ceramah adalah adalah mayoritas orang yang ekonominya menengah ke bawah.
Selanjutnya agar manusia tidak dalam bayang-bayang kegagalan dan kesusahan, Gus Ali menyajikan kiat jitunya yaitu (1) Ketika kamu membaca alquran (sesuai ayat suci Al Quran dan As Sunnah), (2) Ketika kamu berada pada majelis dzikir  (sesuai ayat suci Al Quran dan As Sunnah), (3) Ketika kamu berada pada sepertiga malam terakhir  (sesuai ayat suci Al Quran dan As Sunnah).
2.Berbaik sangka (husnudzon),
Gus Ali memaparkan kiat berbaik sangka adalah jangan hiraukan pujian dan celaan manusia, semuanya disandarkan pada keridhaan Allah SWT agar mendapatkan pahala dalam amal kebajikannya yang nantinya dapat dipetik dan dinikmati di hadapan Allah. Di hadapan Allah dalam konteks ini adalah berjumpa Allah SWT di surganya kelak.
3.Apa yang kita perbuat hari ini, akibatnya akan kita rasakan juga.
Gus Ali menggambarkan hal ini dengan contoh sederhana yang bisa disaksikan langsung oleh anak taman kanak-kanak sampai orang dewasa doctoral sebagai berikut “apa yang kita lempar ke atas akan turun ke bawah menjadi kenyataan. Kalau yang kita lempar kopyah, yang turun adalah kopyah” diperdalam lagi dengan contoh yang filosofis “ kalau yang kita lempar “SAYA SUKSES, SAYA BAHAGIA, SAYA CERDAS” senantiasa muatan-muatan pikiran kita penuh muatan positif, yang turun (hadir) kepada kita adalah insya allah kita jadi orang sukses dan diberkahi oleh Allah”. Admin memandang bahwa Gus Ali menggambarkan contoh ini dengan sebuah permainan lempar benda karena beliau mendasarkan kehidupan dunia ini hanyalah permainan. Ketika permainan itu dilakukan oleh hamba yang memiliki ilmu dan iman, maka hamba tersebut pasti memenangkan permainan. Karena permainan dunia tersebut hanya dapat dimenangkan dengan ilmu dan iman. Permainan kopyah tersebut adalah bagian dari permainan dunia. Ia dapat dilakukan oleh siapa pun orang muslim, di atas kasur, di jalan, di halaman masjid, pendek kata dimana saja permainan itu dapat dilakukan tanpa membutuhkan biaya dan banyak teman, cukup simple untuk melakukannnya.

Dengan gagasan yang sederhana pula, Gus Ali mengikuti pendapat ulama sufi tentang tanda orang yang ikhlash dalam amal ibadahnya. Adapun tanda orang yang ikhlas dalam amal ibadahnya:
1.Ketika seorang hamba beramal ibadah, pujian dan celaan manusia baginya sama saja.
2.Ketika seorang hamba beramal ibadah, dirinya  tidak memandang manusia lainnya, maksudnya manusia lainnya mau memuji atau mencela itu bukan tujuan seorang hamba, namun tujuannya adalah hanyalah wajah keridhaan Allah
3.Ketika seorang hamba beramal ibadah, dirinya tidak mengharapkan apapun dari manusia manapun atau dari makhluk allah manapun kecuali ingin berjumpa Allah di akhirat kelak.

Admin mencermati bahwa KH. Agus Ali Mashuri (panggilan akrab, Gus Ali) yang bukan lulusan Magister Sastra atau Doktoral Sastra telah menunjukkan kebolehannya dalam bersastra ketika menguraikan tema berjudul KIAT AMAL IBADAH YANG IKHLAS. Kemampuan sastra lisannya sangat memukau, beliau sejajar dengan Professor Sastra.
Kita simak kehebatan Gus Ali dalam bersastra tampak sekali dalam rangkaian kata-kata yang tersusun dan terpadu dengan ayat suci Al Qur’an: Perhatikan ucapan asli Gus Ali berikut ini:
“Allah tidak pernah menjanjikan langit cerah terus menerus tanpa mendung,
Allah tidak pernah menjanjikan laut pasang terus menerus tanpa surut,

tapi
Allah menjanjikan
fa inna ma’al ‘ushri yusraa,
inna ma’al ‘ushri yushraa.
Bersama kesulitan pasti ada kemudahan,
bersama kesempitan pasti ada kelapangan,
bersama kegagalan pasti ada kesuksesan,
bersama penyakit pasti ada obatnya,
bersama masalah pasti ada solusinya,

begitu juga
bersama musibah di sana ada berkah”.
Ungkapan Gus Ali yang sangat puitis tersebut di atas dapat kita urai lebih detail lagi, di antaranya:
1.Dalam dunia perpolitikan, maksud dari “Allah tidak pernah menjanjikan langit cerah terus menerus tanpa mendung” adalah gambaran singkat mengenai keadaan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) bahwa tidak selamanya pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (digambarkan dengan langit cerah) selamanya langgeng walaupun posisinya saat itu di atas awan (Mega) toh akhirnya langit berubah menjadi awan (kepemimpinan pemerintahan NKRI beralih ke tangan kubu Mega, kubu Megawati Sukarnoputri) padahal pada waktu itu kubu Susilo Bambang Yudhoyono digambarkan oleh Gus Ali sebagai laut pasang (berlimpahan harta dan tahta). Ternyata pasangnya laut tidak mampu bertahan terus menerus toh akhirnya surut juga dalam tahtanya (yang digambarkan dalam kondisi laut surut airnya, inilah kodrat alam), bahkan tidak mampu membendung gerakan awan yang begitu cepat menghiasi atmosfer NKRI hingga akhirnya turunlah hujan yang membawa berkah (sebagaimana gambaran dalam Al Quran, Al Quran mengatakan hujan yang mengguyur bumi membawa berkah) sebagai penyejuk NKRI agar tetap tumbuh yang hijau beraneka tanaman untuk nantinya juga pertumbuhan itu berguna bagi kehidupan generasi muslim di NKRI, karena NKRI banyak dihuni masyarakat muslim. Pada akhirnya masyarakat muslim bisa juga asyik bersujud dalam shalatnya dengan karpet merah (sajadah merah)  semerah darah segar yang mengalir di tubuhnya karena kaya akan oksigen, oksigen sebagai wujud hasil kerja nyata hijau daun yang baru saja diguyur hujan setelah awan (Mega) berarak-arakan menyemarakkan pesta demokrasi di NKRI. (Ada yang perlu diingatkan Admin bahwa hujan dalam Al Quran diartikan menurunkan rejeki yang penuh berkah, kalaulah memang sekarang hujan sering menimbulkan malapetaka banjir itu semata-mata bentuk dzikir hujan kepada Allah SWT ketika ulah manusia merusak alam, ada sunnatullah yang berlaku padanya ketika keseimbangan alam diberikan aksi tentu, maka alam bereaksi yang sepadan dengan aksi yang menimpa padanya).
Ketika kubu Susilo Bambang Yudhoyono menerima kekalahan dengan ikhlas, dan kubu Mega menerima kemenangan dengan ikhlas, maka keduanya akan dengan mudah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Akhirnya kedua kubu sama-sama dapat beramal ibadah dengan ikhlash. Inilah maksud Gus Ali agar kita bisa beramal ibadah yang ihlash lebih lanjut, maka apa yang terjadi pada kita haruslah diterima dengan ihlash juga.
2.Dalam dunia ekonomi, maksud dari “Allah tidak pernah menjanjikan langit cerah terus menerus cerah mendung” adalah gambaran tentang ekonomi rakyat Indonesia yang mayoritas muslim mulai dari rakyat jelata hingga para pejabat, kekayaan yang dimilikinya bisa pasang (berlebihan) kadang bisa surut (berkurang atau bahkan kekurangan), Mengapa kekayaannya pasang? Mungkin ia mendapatkan kekayaannya dari jalan yang tak diduga-duga (min haitsu laayahtasib), atau mungkin karena ia menduduki jabatan dan pangkat tinggi sehingga mendapatkan gaji besar atau mungkin mendapatkan hadiah besar atau mungkin karena ia kerja kerasnya yang dengan gaji besar atau mungkin-mungkin lainnya.
Mengapa kekayaannya surut? Mungkin karena kehilangan, mungkin dilanda bencana, mungkin dilanda paceklik, atau mungkin karena dilanda kriis moneter, atau mungkin-mungkin lainnya.
Kekayaaan yang dimiliki manusia tentu didapatkan tidak dengan mudah begitu saja tetapi harus dilakukan dengan kerja keras, ada halangan atau kesulitan selalu mengiringi kerja kerasnya, bahkan Gus Ali mengatakan ada penyakit menimpa, ada berbagai masalah lainnya yang tak dikira. Oleh karena itu Gus Ali meminta dengan ikhlas menghadapinya kesulitan dalam mengejar kekayaan untuk keperluan ibadahnya karena sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan.
Apabila manusia sudah kaya, maka jangan lupa beramal ibadah yang didasari dengan ilmu dan iman, jangan lupa menyantuni fakir miskin atau menginfakkan hartanya di jalan-jalan allah.
Begitu juga ketika manusia dalam kondisi miskin, Gus Ali mengatakan bahasanya yang puitis
 “Bersama kesulitan pasti ada kemudahan,
bersama kesempitan pasti ada kelapangan,
bersama kegagalan pasti ada kesuksesan,”
Menurut Admin, Gus Ali menggambarkan adanya pergantian situasi dalam menjalani kehidupan. Oleh karena itu, Gus Ali mengingatkan agar dalam menghadapi hari raya Idul Fitri nanti kaum muslimin jangan gampang menghambur-hamburkan hartanya yang sudah dikejar sekian lama dengan susah payah hanya untuk kunjung mengunjungi sanak familinya walau dengan dalih hari raya idul fitri cuma setahun sekali makanya mengunjungi sanak family tetangga harus dengan baju baru menarik dan parfum wangi supaya tampak jamiilan karena Allaah jamiilun dan Allah menyukai keindahan, atau dengan dalih beri memberi harta di hari raya idul fitri itu kan menyenangkan orang. Ingatlah menyenangkan orang bukanlah terpusat pada hari raya idul fitri saja. Betapa pentingnya hidup hemat dan sederhana sebagaimana yang diajarkan Rosuulillah SAW, inilah yang diharapkan Gus Ali dalam ungkapan puitisnya.
3. Dalam dunia pendidikan, Gus Ali mengingatkan bahwa manusia terlahir ke dunia tidak punya ilmu apa-apa, setelah mempelajari ilmu dunia, manusia bisa menjadi berlimpahan ilmunya (digambarkan laut terus menerus pasang) ternyata dalam perjalanan kehidupannya manusia berangsur-angsur menua dan pada saat bersamaan manusia harus pikun, pada saat inilah manusia harus mengalami surut ilmu dunianya (digambarkan dengan keadaan laut surut). Pada saat manusia mendalami ilmu dunia, keadaan yang sebagaimana digambarkan dalam ungkapan puitisnya
 “Bersama kesulitan pasti ada kemudahan,
bersama kesempitan pasti ada kelapangan,
bersama kegagalan pasti ada kesuksesan,
bersama penyakit pasti ada obatnya,
bersama masalah pasti ada solusinya,
begitu juga bersama musibah di sana ada berkah.”
pasti melanda manusia.
Untuk menghadapi hal ini Gus Ali memaparkan kiat jitunya “Berpikir Positif”, karena berpikir positif adalah gagasan sederhana yang ditawarkan oleh Gus Ali.
4. Dalam dunia lainnya, dapat dicari tafsirannya sendiri. Kiranya Kami Admin Blog Masjid Al Hikmah Kebonsari Surabaya dan Facebooknya hanya menafsirkan sedikit saja dari ungkapan Gus Ali.

Menurut pandangan Admin, Gus Ali memiliki tujuan yang dikongkritkan pada capaian hasil akhir yang diharapkan dalam ikhlash beramal ibadah adalah kecerdasan baru, gairah baru, dan semangat baru. Tiga pilar inilah nantinya dapat melahirkan generasi sholeh sholihah yang mampu menegakkan izzil islaami wal muslimiin.

=======================================
SELESAI
=======================================

Demikianlah, Bedah Ceramah KH AGUS ALI MASHURI yang dilakukan oleh Admin sebelum memilih ceramah ini agar bisa dijadikan pilihan pembaca sebagai renungan santai di bulan Ramadahan atau di luar Ramadhan.
Tentunya, proses pembedahan tersebut dilakukan oleh Admin dengan hati-hati dan teliti supaya hasilnya mendekati sempurna. Kami Admin tidak asal-asalan dalam memilihanya. Semoga penasaran pembaca menjadi tidak penasaran dan puas dengan penjelasan Kami Admin, Semoga tidak ada penasaran terhadap proses pemilihan ceramah tersebut di atas karena Kami Admin sudah membeber semua rahasianya.
Terima kasih,
Salam Kami,
Admin,