Tanggapan terhadap
pembaca Blog dan Facebook Masjid Al Hikmah Kebonsari Surabaya, “Mengapa harus
ceramah tarawih KH AGUS ALI MASHURI 11 Ramadhan 1436 H yang dipilih sebagai
renungan santai bagi pembaca Blog dan Facebook Masjid Al Hikmah Kebonsari Surabaya?”
Berikut ini data paparan
dan ulasan Admin yang dikemas dalam judul BEDAH CERAMAH KH AGUS ALI MASHURI
PADA TARAWIH 11 RAMADHAN 1436 H
Paparan data dan ulasan
dilakukan Admin sebelum memutuskan cocok sebagai pilihan renungan buat pembaca
saat ini dan harus dipublikasikan secepatnya.
===================================================================
BEDAH CERAMAH KH AGUS ALI MASHURI PADA TARAWIH 11 RAMADHAN 1436 H
MENGAPA KH AGUS ALI MASHURI DIPILIH PADAHAL BUKAN MAGISTER, DOKTOR, ATAU
PROFESSOR?
===================================================================
TEMA : KIAT AMAL IBADAH
YANG IKHLASH.
PENCERAMAH: KH AGUS ALI
MASHURI (PENGASUH PONPES BUMI SHALAWAT, TULANGAN, SIDOARJO, JAWA TIMUR).
HARI, TANGGAL: MINGGU 28
JUNI 2015 (AHAD, 11 RAMADHAN 1436 H).
TEMPAT : MASJID AL AKBAR
SURABAYA.
DURASI : ALOKASI WAKTU
CERAMAH YANG DISEDIAKAN 15 MENIT,
WAKTU : ANTARA BA’DA
SHALAT ISYA DAN QABLA SHALAT TARAWIH.
ISI : ISI CERAMAH
TERKAIT DENGAN TEMA.
KELENGKAPAN : SELAMA 15
MENIT CERAMAH MENGURAIKAN TEMA SECARA LENGKAP, SINGKAT, DAN JELAS.
AYAT AL QURAN :
ADA, SESUAI DAN MENDUKUNG TEMA.
AL HADITS : ADA,
SESUAI DAN MENDUKUNG TEMA.
CONTOH SEHARI-HARI :
ADA, SESUAI DAN MENDUKUNG TEMA.
BAHASA: BAHASA YANG
DISAMPAIKAN MUDAH DIPAHAMI, BAHKAN MEMILIKI KELEBIHAN MENGGUNAKAN BAHASA SASTRA
YANG TINGGI DALAM MENYAJIKAN CONTOH SEDERHANA, NAMUN NILAI SASTRANYA BISA
DIPAHAMI OLEH ANAK LEVEL SEKOLAH DASAR HINGGA ORANG DEWASA LEVEL DOKTORAL.
KUPASAN ADMIN:
KH. Agus Ali Mashuri
(panggilan akrab, Gus Ali) mengatakan bahwa untuk beramal ibadah harus
didasari dengan ilmu dan iman (Menurut Admin ini sesuai dengan Al Quran dan As
Sunnah)..
Agar ibadah yang
dilakukan seseorang bisa dikatakan ikhlash, Gus Ali memaparkan gagasan
sederhana sebagai kiat-kiatnya yaitu
1.Berpikir positif
2.Berbaik sangka.
3.Apa yang kita perbuat
hari ini, akibatnya akan kita rasakan juga.
Maksud dari gagasan
sederhana tersebut adalah
1.Berpikir positif,
Gus Ali menyajikan kiat
jitu “Jangan sampai pikiran kita hari ini dihantui kegagalan, jangan
sampai pikiran kita hari ini dihantui kesusahan”. Admin berpikir Gus Ali
mengatakan pada situasi yang tepat karena situasi saat ini bersamaan dengan
menjelang idul fitri yang tentunya orang-orang beramai-ramai membutuhkan
tambahan uang untuk merayakan idul fitrinya, bersamaan dengan situasi orang tua
menyekolahkan anaknya ke jenjang yang lebih tinggi yang tentunya dibutuhkan
suntikan dana segar, bersamaan dengan harga barang yang cenderung naik, keadaan
ini sering kali memaksa orang kelas ekonomi menengah ke bawah dihantui
kesusahan. Ungkapan beliau sangat cocok dengan fakta nyata bahwa yang dihadapi
Gus Ali saat ceramah adalah adalah mayoritas orang yang ekonominya menengah ke
bawah.
Selanjutnya agar manusia
tidak dalam bayang-bayang kegagalan dan kesusahan, Gus Ali menyajikan kiat
jitunya yaitu (1) Ketika kamu membaca alquran (sesuai ayat suci Al Quran dan As
Sunnah), (2) Ketika kamu berada pada majelis dzikir (sesuai ayat suci Al
Quran dan As Sunnah), (3) Ketika kamu berada pada sepertiga malam
terakhir (sesuai ayat suci Al Quran dan As Sunnah).
2.Berbaik sangka
(husnudzon),
Gus Ali memaparkan kiat
berbaik sangka adalah jangan hiraukan pujian dan celaan manusia, semuanya
disandarkan pada keridhaan Allah SWT agar mendapatkan pahala dalam amal
kebajikannya yang nantinya dapat dipetik dan dinikmati di hadapan Allah. Di
hadapan Allah dalam konteks ini adalah berjumpa Allah SWT di surganya kelak.
3.Apa yang kita perbuat
hari ini, akibatnya akan kita rasakan juga.
Gus Ali menggambarkan
hal ini dengan contoh sederhana yang bisa disaksikan langsung oleh anak taman
kanak-kanak sampai orang dewasa doctoral sebagai berikut “apa yang kita lempar ke atas akan turun ke bawah menjadi kenyataan.
Kalau yang kita lempar kopyah, yang turun adalah kopyah” diperdalam lagi dengan
contoh yang filosofis “ kalau yang kita lempar “SAYA SUKSES, SAYA BAHAGIA, SAYA
CERDAS” senantiasa muatan-muatan pikiran kita penuh muatan positif, yang turun
(hadir) kepada kita adalah insya allah kita jadi orang sukses dan diberkahi
oleh Allah”. Admin memandang bahwa Gus Ali menggambarkan contoh ini dengan
sebuah permainan lempar benda karena beliau mendasarkan kehidupan dunia ini
hanyalah permainan. Ketika permainan itu dilakukan oleh hamba yang memiliki
ilmu dan iman, maka hamba tersebut pasti memenangkan permainan. Karena
permainan dunia tersebut hanya dapat dimenangkan dengan ilmu dan iman.
Permainan kopyah tersebut adalah bagian dari permainan dunia. Ia dapat
dilakukan oleh siapa pun orang muslim, di atas kasur, di jalan, di halaman
masjid, pendek kata dimana saja permainan itu dapat dilakukan tanpa membutuhkan
biaya dan banyak teman, cukup simple untuk melakukannnya.
Dengan gagasan yang
sederhana pula, Gus Ali mengikuti pendapat ulama sufi tentang tanda orang yang
ikhlash dalam amal ibadahnya. Adapun tanda orang yang ikhlas dalam amal
ibadahnya:
1.Ketika seorang hamba
beramal ibadah, pujian dan celaan manusia baginya sama saja.
2.Ketika seorang hamba
beramal ibadah, dirinya tidak memandang manusia lainnya, maksudnya
manusia lainnya mau memuji atau mencela itu bukan tujuan seorang hamba, namun
tujuannya adalah hanyalah wajah keridhaan Allah
3.Ketika seorang hamba
beramal ibadah, dirinya tidak mengharapkan apapun dari manusia manapun atau
dari makhluk allah manapun kecuali ingin berjumpa Allah di akhirat kelak.
Admin mencermati bahwa
KH. Agus Ali Mashuri (panggilan akrab, Gus Ali) yang bukan lulusan Magister Sastra
atau Doktoral Sastra telah menunjukkan kebolehannya dalam bersastra ketika
menguraikan tema berjudul KIAT AMAL IBADAH YANG IKHLAS. Kemampuan sastra lisannya
sangat memukau, beliau sejajar dengan Professor Sastra.
Kita simak kehebatan Gus
Ali dalam bersastra tampak sekali dalam rangkaian kata-kata yang tersusun dan
terpadu dengan ayat suci Al Qur’an: Perhatikan ucapan asli Gus Ali berikut ini:
“Allah tidak pernah
menjanjikan langit cerah terus menerus tanpa mendung,
Allah tidak pernah
menjanjikan laut pasang terus menerus tanpa surut,
tapi
Allah menjanjikan
fa inna ma’al ‘ushri
yusraa,
inna ma’al ‘ushri
yushraa.
Bersama kesulitan pasti
ada kemudahan,
bersama kesempitan pasti
ada kelapangan,
bersama kegagalan pasti
ada kesuksesan,
bersama penyakit pasti
ada obatnya,
bersama masalah pasti
ada solusinya,
begitu juga
bersama musibah di sana
ada berkah”.
Ungkapan Gus Ali yang
sangat puitis tersebut di atas dapat kita urai lebih detail lagi, di antaranya:
1.Dalam dunia
perpolitikan, maksud dari “Allah tidak
pernah menjanjikan langit cerah terus menerus tanpa mendung” adalah
gambaran singkat mengenai keadaan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia)
bahwa tidak selamanya pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (digambarkan dengan
langit cerah) selamanya langgeng walaupun posisinya saat itu di atas awan
(Mega) toh akhirnya langit berubah menjadi awan (kepemimpinan pemerintahan NKRI
beralih ke tangan kubu Mega, kubu Megawati Sukarnoputri) padahal pada waktu itu
kubu Susilo Bambang Yudhoyono digambarkan oleh Gus Ali sebagai laut pasang
(berlimpahan harta dan tahta). Ternyata pasangnya laut tidak mampu bertahan terus
menerus toh akhirnya surut juga dalam tahtanya (yang digambarkan dalam kondisi
laut surut airnya, inilah kodrat alam), bahkan tidak mampu membendung gerakan
awan yang begitu cepat menghiasi atmosfer NKRI hingga akhirnya turunlah hujan
yang membawa berkah (sebagaimana gambaran dalam Al Quran, Al Quran mengatakan
hujan yang mengguyur bumi membawa berkah) sebagai penyejuk NKRI agar tetap
tumbuh yang hijau beraneka tanaman untuk nantinya juga pertumbuhan itu berguna
bagi kehidupan generasi muslim di NKRI, karena NKRI banyak dihuni masyarakat
muslim. Pada akhirnya masyarakat muslim bisa juga asyik bersujud dalam
shalatnya dengan karpet merah (sajadah merah) semerah darah segar yang mengalir di tubuhnya
karena kaya akan oksigen, oksigen sebagai wujud hasil kerja nyata hijau daun
yang baru saja diguyur hujan setelah awan (Mega) berarak-arakan menyemarakkan
pesta demokrasi di NKRI. (Ada yang perlu diingatkan Admin bahwa hujan dalam Al
Quran diartikan menurunkan rejeki yang penuh berkah, kalaulah memang sekarang
hujan sering menimbulkan malapetaka banjir itu semata-mata bentuk dzikir hujan
kepada Allah SWT ketika ulah manusia merusak alam, ada sunnatullah yang berlaku
padanya ketika keseimbangan alam diberikan aksi tentu, maka alam bereaksi yang
sepadan dengan aksi yang menimpa padanya).
Ketika kubu Susilo
Bambang Yudhoyono menerima kekalahan dengan ikhlas, dan kubu Mega menerima
kemenangan dengan ikhlas, maka keduanya akan dengan mudah mendekatkan diri
kepada Allah SWT. Akhirnya kedua kubu sama-sama dapat beramal ibadah dengan
ikhlash. Inilah maksud Gus Ali agar kita bisa beramal ibadah yang ihlash lebih
lanjut, maka apa yang terjadi pada kita haruslah diterima dengan ihlash juga.
2.Dalam dunia ekonomi,
maksud dari “Allah tidak pernah
menjanjikan langit cerah terus menerus cerah mendung” adalah gambaran
tentang ekonomi rakyat Indonesia yang mayoritas muslim mulai dari rakyat jelata
hingga para pejabat, kekayaan yang dimilikinya bisa pasang (berlebihan) kadang
bisa surut (berkurang atau bahkan kekurangan), Mengapa kekayaannya pasang? Mungkin
ia mendapatkan kekayaannya dari jalan yang tak diduga-duga (min haitsu
laayahtasib), atau mungkin karena ia menduduki jabatan dan pangkat tinggi
sehingga mendapatkan gaji besar atau mungkin mendapatkan hadiah besar atau
mungkin karena ia kerja kerasnya yang dengan gaji besar atau mungkin-mungkin
lainnya.
Mengapa kekayaannya
surut? Mungkin karena kehilangan, mungkin dilanda bencana, mungkin dilanda
paceklik, atau mungkin karena dilanda kriis moneter, atau mungkin-mungkin
lainnya.
Kekayaaan yang dimiliki
manusia tentu didapatkan tidak dengan mudah begitu saja tetapi harus dilakukan
dengan kerja keras, ada halangan atau kesulitan selalu mengiringi kerja
kerasnya, bahkan Gus Ali mengatakan ada penyakit menimpa, ada berbagai masalah lainnya
yang tak dikira. Oleh karena itu Gus Ali meminta dengan ikhlas menghadapinya
kesulitan dalam mengejar kekayaan untuk keperluan ibadahnya karena sesungguhnya
setelah kesulitan ada kemudahan.
Apabila manusia sudah
kaya, maka jangan lupa beramal ibadah yang didasari dengan ilmu dan iman,
jangan lupa menyantuni fakir miskin atau menginfakkan hartanya di jalan-jalan
allah.
Begitu juga ketika
manusia dalam kondisi miskin, Gus Ali mengatakan bahasanya yang puitis
“Bersama
kesulitan pasti ada kemudahan,
bersama kesempitan pasti
ada kelapangan,
bersama kegagalan pasti
ada kesuksesan,”
Menurut Admin, Gus Ali
menggambarkan adanya pergantian situasi dalam menjalani kehidupan. Oleh karena
itu, Gus Ali mengingatkan agar dalam menghadapi hari raya Idul Fitri nanti kaum
muslimin jangan gampang menghambur-hamburkan hartanya yang sudah dikejar sekian
lama dengan susah payah hanya untuk kunjung mengunjungi sanak familinya walau
dengan dalih hari raya idul fitri cuma setahun sekali makanya mengunjungi sanak
family tetangga harus dengan baju baru menarik dan parfum wangi supaya tampak
jamiilan karena Allaah jamiilun dan Allah menyukai keindahan, atau dengan dalih
beri memberi harta di hari raya idul fitri itu kan menyenangkan orang. Ingatlah
menyenangkan orang bukanlah terpusat pada hari raya idul fitri saja. Betapa
pentingnya hidup hemat dan sederhana sebagaimana yang diajarkan Rosuulillah
SAW, inilah yang diharapkan Gus Ali dalam ungkapan puitisnya.
3. Dalam dunia
pendidikan, Gus Ali mengingatkan bahwa manusia terlahir ke dunia tidak punya
ilmu apa-apa, setelah mempelajari ilmu dunia, manusia bisa menjadi berlimpahan
ilmunya (digambarkan laut terus menerus pasang) ternyata dalam perjalanan
kehidupannya manusia berangsur-angsur menua dan pada saat bersamaan manusia
harus pikun, pada saat inilah manusia harus mengalami surut ilmu dunianya
(digambarkan dengan keadaan laut surut). Pada saat manusia mendalami ilmu
dunia, keadaan yang sebagaimana digambarkan dalam ungkapan puitisnya
“Bersama kesulitan pasti ada kemudahan,
bersama kesempitan pasti
ada kelapangan,
bersama kegagalan pasti
ada kesuksesan,
bersama penyakit pasti
ada obatnya,
bersama masalah pasti
ada solusinya,
begitu juga bersama
musibah di sana ada berkah.”
pasti melanda manusia.
Untuk menghadapi hal ini
Gus Ali memaparkan kiat jitunya “Berpikir Positif”, karena berpikir
positif adalah gagasan sederhana yang ditawarkan oleh Gus Ali.
4. Dalam dunia lainnya,
dapat dicari tafsirannya sendiri. Kiranya Kami Admin Blog Masjid Al Hikmah
Kebonsari Surabaya dan Facebooknya hanya menafsirkan sedikit saja dari ungkapan
Gus Ali.
Menurut pandangan Admin, Gus Ali memiliki tujuan yang dikongkritkan pada capaian hasil akhir yang
diharapkan dalam ikhlash beramal ibadah adalah kecerdasan baru, gairah
baru, dan semangat baru. Tiga pilar inilah nantinya dapat melahirkan
generasi sholeh sholihah yang mampu menegakkan izzil islaami wal muslimiin.
=======================================
SELESAI
=======================================
Demikianlah, Bedah
Ceramah KH AGUS ALI MASHURI yang dilakukan oleh Admin sebelum memilih ceramah
ini agar bisa dijadikan pilihan pembaca sebagai renungan santai di bulan
Ramadahan atau di luar Ramadhan.
Tentunya, proses
pembedahan tersebut dilakukan oleh Admin dengan hati-hati dan teliti supaya
hasilnya mendekati sempurna. Kami Admin tidak asal-asalan dalam memilihanya. Semoga
penasaran pembaca menjadi tidak penasaran dan puas dengan penjelasan Kami
Admin, Semoga tidak ada penasaran terhadap proses pemilihan ceramah tersebut di
atas karena Kami Admin sudah membeber semua rahasianya.
Terima kasih,
Salam Kami,
Admin,