Jumat, 08 Mei 2015

Jumat, 08 Mei 2015

FIQH KONTEMPORER HARI KAMIS 7 MEI 2015


FIQH KONTEMPORER
Oleh Prof.Dr.KH. Ahmad Zahro
Diambil dari acara Kajian Fiqh Kontemporer di Masjid Nasional Al Akbar
Ba’da Shalat Maghrib Hari Kamis, 7 Mei 2015
Dipublikasikan ulang Pertama Kali via blog di Masjid Al Hikmah Kebonsari Surabaya

Muqaddimah:
ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ
Alhamdulilaahirabbil ‘aalamiin
Subhaanaka laa’ilma lanaa illaa maa ‘allamtanaa, innaka antal ‘aliimul hakiim.

Pertanyaan 1:
Dari Bu Doktor Ismul:
Sekarang desain perhiasan itu macam-macam.
Misalnya cincin,  liontin ada lafal Allah dan Muhammad.
Ada salah satu pendapat yang mengatakan bahwa kalau memakai cincin yang berlafal Allah SWT atau Muhammad SAW itu masuk WC atau masuk kamar mandi itu harus dilepas. Kalau dilepas di rumah sih ndak masalah, tapi kalau di tempat umum nanti hilang, itu apa ada haditsnya.
Jawaban:
Dari Prof.Dr.KH.Ahmad Zahro:
Kalau haditsnya tekstual ndak ada, ini memang soal etika. Sama dengan ini loh hadits larangan menginjak Al Quran tidak ada secara tekstual, hadits larangan nguyuhi Al Quran juga ndak ada.
Orang sehat akalnya pasti merasa sesuatu yang berisi pedoman kehidupan dunia akhirat wajib dijaga kehormatannya.
Membawa kalimat tayyibah terutama kalimat Allah SWT dan Muhammad SAW ke WC tentu itu tidak etis.
HP saya ini berisi berisi aplikasi Al Quran. Namanya HP, tapi saya tahu ada Al Qurannya, maka saya ndak pernah membawanya ke WC walaupun tidak ada dalil yang mengatakan larangan membawanya ke WC.
Tapi kalau terpaksa memang mau ke kamar kecil atau ke kamar mandi kemudian nggak ada yang nunggu, ya harus disaki. Diniati ngesaki hp
Kalau ali-ali atau cincin memang boleh dikasih kalimah thayyibah karena Rosulullah juga ada kok, ngasih tulisan cincinya dengan lafal tadi. Artinya boleh menulis tapi harus bisa menjaga
Setahu saya rosulullah tidak pernah memakai cincin berisi lafal Allah SWT dan Muhammad SAW di dalam WC karena WC berbeda dengan kamar mandi. Dulu kamar mandi dengan WC berpisah.
Sekarang WC dan kamar mandi jadi satu, statusnya baina-baina atau antara.
Tapi saya menghimbau secara etis (tata krama, sopan santun, akhlak): “Kalau panjenengan ada tulisan kalimah thayyibahnya  apalagi nama Allah SWT atau Rasoulullah Muhammad SAW, maka jangan dibawa ke WC, jangan dibawa ke kamar kecil.
Kalau sendirian ndak ada yang nunggu tas di tempat umum lalu harus masuk WC sementara tas di luar gak ada yang jaga ya sudah dibawa saja ke WC karena keadaan darurat. Menjaga harta itu hukumnya wajib maka kena hukum darurat adh dhoruurotu tubihul mahdhuurot,Keadaan darurat itu membolehkan sesuatu yang mestinya ndak boleh
Mestinya membawa cincin yang ada kalimah thayyibahnya itu ndak boleh tapi karena darurat, tidak ada cara lain, maka boleh Karena terpaksa. Kalau sudah terpaksa ini menjadi boleh

Pertanyaan 2:
Surah An Nisa ayat 98, di situ ada kata kata “wildan”, lelaki dan wanita dan anak-anak yang tidak mampu untuk berjihad.
Di surah Al Waqiah ayat 17, di situ ayat 16 : di surga akan duduk di dipan-dipan yang bersandar dan duduk berhadapan dan dikelilingi oleh pemuda. Di sini ada kata “wildan” tapi tafsirnya kok beda, anak anak dan pemuda
Jawaban:
Wildan itu pemuda. Pemuda itu Laki laki yang masih muda.
Kalau di surah An Nisa itu untuk di dunia ya bermakna pemuda.
Kalau di surah Al Waqiah itu untuk di akhirat ya bermakna bidadara.
Ada khurin’in itu pemudi (bidadari) surga, kalau wildan itu pemuda (bidadara) surga.
Di surga nanti ibu-ibu ini cantik semua kemudian muda semua dan akan dilayani oleh wildan (bidadara, pemuda pelayan di surga). Sedangkan nanti semua bapak ini akan muda, ganteng semua, lalu dilayani khurin’in (bidadari).
Memang, pengertiannya begitu.
Ini mirip lafal Al Jannah.
Al Jannah itu kalau untuk kehidupan akhirat bermakna surga.
Al Jannah di beberapa ayat lain di Al Quran untuk kehidupan dunia bermakna kebun yang sangat luar biasa indahnya. Tidak selalu Jannah bermakna surga.

Penutup:
Acara kajian ditutup dengan untaian doa dan doa kafarotul majlis

ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻧْﺖَ
ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ
Subhaanaka allaahumma wa bihamdika, asyhadu an laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaiik.
Artinya :
Maha Suci Engkau wahai Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak di-IBADAHI melainkan Engkau, daku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.

Tulisan ini juga dipublikasikan di FACEBOOK Masjid Alhikmah Kebonsari Surabaya dengan link https://www.facebook.com/notes/681726341939192/?pnref=story#!/masjidalhikmahkebonsarisurabaya