FIQH KONTEMPORER
Oleh Prof.Dr.KH.
Ahmad Zahro
Diambil dari acara
Kajian Fiqh Kontemporer di Masjid Nasional Al Akbar
Ba’da Shalat Maghrib
Hari Kamis, 7 Mei 2015
Dipublikasikan ulang
Pertama Kali via blog di Masjid Al Hikmah Kebonsari Surabaya
Muqaddimah:
ٱلۡحَمۡدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ
Alhamdulilaahirabbil ‘aalamiin
Subhaanaka laa’ilma lanaa illaa maa ‘allamtanaa, innaka
antal ‘aliimul hakiim.
Pertanyaan 1:
Dari
Bu Doktor Ismul:
Sekarang
desain perhiasan itu macam-macam.
Misalnya
cincin, liontin ada lafal Allah dan
Muhammad.
Ada
salah satu pendapat yang mengatakan bahwa kalau memakai cincin yang berlafal
Allah SWT atau Muhammad SAW itu masuk WC atau masuk kamar mandi itu harus
dilepas. Kalau dilepas di rumah sih ndak masalah, tapi kalau di tempat umum
nanti hilang, itu apa ada haditsnya.
Jawaban:
Dari
Prof.Dr.KH.Ahmad Zahro:
Kalau
haditsnya tekstual ndak ada, ini memang soal etika. Sama dengan ini loh hadits
larangan menginjak Al Quran tidak ada secara tekstual, hadits larangan nguyuhi
Al Quran juga ndak ada.
Orang
sehat akalnya pasti merasa sesuatu yang berisi pedoman kehidupan dunia akhirat
wajib dijaga kehormatannya.
Membawa
kalimat tayyibah terutama kalimat Allah SWT dan Muhammad SAW ke WC tentu itu
tidak etis.
HP
saya ini berisi berisi aplikasi Al Quran. Namanya HP, tapi saya tahu ada Al
Qurannya, maka saya ndak pernah membawanya ke WC walaupun tidak ada dalil yang
mengatakan larangan membawanya ke WC.
Tapi
kalau terpaksa memang mau ke kamar kecil atau ke kamar mandi kemudian nggak ada
yang nunggu, ya harus disaki. Diniati ngesaki hp
Kalau
ali-ali atau cincin memang boleh dikasih kalimah thayyibah karena Rosulullah
juga ada kok, ngasih tulisan cincinya dengan lafal tadi. Artinya boleh menulis
tapi harus bisa menjaga
Setahu
saya rosulullah tidak pernah memakai cincin berisi lafal Allah SWT dan Muhammad
SAW di dalam WC karena WC berbeda dengan kamar mandi. Dulu kamar mandi dengan
WC berpisah.
Sekarang
WC dan kamar mandi jadi satu, statusnya baina-baina atau antara.
Tapi
saya menghimbau secara etis (tata krama, sopan santun, akhlak): “Kalau
panjenengan ada tulisan kalimah thayyibahnya
apalagi nama Allah SWT atau Rasoulullah Muhammad SAW, maka jangan dibawa
ke WC, jangan dibawa ke kamar kecil.
Kalau
sendirian ndak ada yang nunggu tas di tempat umum lalu harus masuk WC sementara
tas di luar gak ada yang jaga ya sudah dibawa saja ke WC karena keadaan
darurat. Menjaga harta itu hukumnya wajib maka kena hukum darurat adh
dhoruurotu tubihul mahdhuurot,Keadaan darurat itu membolehkan sesuatu yang
mestinya ndak boleh
Mestinya
membawa cincin yang ada kalimah thayyibahnya itu ndak boleh tapi karena
darurat, tidak ada cara lain, maka boleh Karena terpaksa. Kalau sudah terpaksa
ini menjadi boleh
Pertanyaan 2:
Surah
An Nisa ayat 98, di situ ada kata kata “wildan”, lelaki dan wanita dan
anak-anak yang tidak mampu untuk berjihad.
Di
surah Al Waqiah ayat 17, di situ ayat 16 : di surga akan duduk di dipan-dipan
yang bersandar dan duduk berhadapan dan dikelilingi oleh pemuda. Di sini ada
kata “wildan” tapi tafsirnya kok beda, anak anak dan pemuda
Jawaban:
Wildan
itu pemuda. Pemuda itu Laki laki yang masih muda.
Kalau
di surah An Nisa itu untuk di dunia ya bermakna pemuda.
Kalau
di surah Al Waqiah itu untuk di akhirat ya bermakna bidadara.
Ada
khurin’in itu pemudi (bidadari) surga, kalau wildan itu pemuda (bidadara)
surga.
Di
surga nanti ibu-ibu ini cantik semua kemudian muda semua dan akan dilayani oleh
wildan (bidadara, pemuda pelayan di surga). Sedangkan nanti semua bapak ini
akan muda, ganteng semua, lalu dilayani khurin’in (bidadari).
Memang,
pengertiannya begitu.
Ini
mirip lafal Al Jannah.
Al
Jannah itu kalau untuk kehidupan akhirat bermakna surga.
Al
Jannah di beberapa ayat lain di Al Quran untuk kehidupan dunia bermakna kebun
yang sangat luar biasa indahnya. Tidak selalu Jannah bermakna surga.
Penutup:
Acara kajian ditutup dengan untaian doa dan doa kafarotul
majlis
ﺳُﺒْﺤَﺎﻧَﻚَ ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻭَﺑِﺤَﻤْﺪِﻙَ ﺃَﺷْﻬَﺪُ ﺃَﻥْ ﻟَﺎ ﺇِﻟَﻪَ ﺇِﻟَّﺎ ﺃَﻧْﺖَ
ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ
Subhaanaka allaahumma wa bihamdika, asyhadu an laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaiik.
Artinya :
ﺃَﺳْﺘَﻐْﻔِﺮُﻙَ ﻭَﺃَﺗُﻮﺏُ ﺇِﻟَﻴْﻚَ
Subhaanaka allaahumma wa bihamdika, asyhadu an laa ilaaha illaa anta, astaghfiruka wa atuubu ilaiik.
Artinya :
Maha Suci Engkau
wahai Allah, dan dengan memuji-Mu, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang
berhak di-IBADAHI melainkan Engkau,
daku memohon ampun dan bertaubat kepada-Mu.
Tulisan ini juga
dipublikasikan di FACEBOOK Masjid Alhikmah Kebonsari Surabaya dengan link https://www.facebook.com/notes/681726341939192/?pnref=story#!/masjidalhikmahkebonsarisurabaya