Kamis, 08 Agustus 2013

Kamis, 08 Agustus 2013

TAUSHIYAH 1000 HARI WAFATNYA KH SJECHUL

PERINGATAN 1000 HARI WAFATNYA PROF.DR.KH.SJECHUL HADI PERMONO, S.H., M.A.

Mengenang 1000 hari wafatnya Prof.Dr.KH.Sjechul Hadi Permono, S.H., M.A. SUDAH DILAKSANAKAN di rumah kediaman almarhum di Jl. Kebonsari Tengah No.71 (tepatnya di depan Masjid Al-Hikmah Kebonsari Surabaya) Kebonsari – Jambangan – Surabaya – Jawa Timur pada hari Minggu 14 Juli 2013
Jam 16.00 WIB (ba’da ashar) dengan acara pembacaan surah YAASIIIIN dan TAHLIIL.

Semasa Hidup beliau adalah Pengasuh Pondok Pesantren Darul Hikmah Kebonsari Surabaya, juga Pelindung Umum Yayasan Darul Hikmah Surabaya. Beliau juga pernah menjabat Direktur Program Pascasarjana (S2 dan S3) IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA,

Kemampuan Beliau di bidang hukum islam sangat hebat, banyak santri beliau yang sudah berhasil menjadi penguasa hukum islam. Mayoritas Santri Alumni Pondok Pesantren Darul Hikmah Kebonsari Surabaya (yang dulu dalam asuhan Beliau) bekerja di bidang pendidikan formal dari tingkat SD/MI (negeri maupun swasta) sampai Perguruan Tinggi (negeri maupun swasta, di pesantren dan di bidang hukum islam pada lembaga negeri/swasta.
Saat ini, Prof.Dr.KH.Faishol Haq, M.Ag. (kini menjadi guru besar di bidang hukum islam di IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA, mantan Dekan Fakultas Syariah IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA) juga santri Beliau. Bahkan Prof.Dr.Ridwan Nashir (mantan rektor IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA, saat ini guru besar IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA) juga hasil gemblengan Beliau. Memang, Prof.Dr.KH.Sjechul Hadi Permono,S.H.,M.A. sangat lihai dalam mencetak kader bangsa yang ahli di bidang hukum islam, lebih dari itu kader-kader hasil godokan beliau sudah menyebar di seluruh tanah air menjadi para asatidz (para guru) yang handal dan dai/daiah yang tak diragukan lagi kualitasnya.

Kini beliau, Prof. Dr.KH.Sjechul Hadi Permono, S.H.,M.A., telah kembali ke hadirat Allah, Beliau pergi untuk selamanya. 
Semoga segala kekhilafannya dan kesalahannya diampuni oleh Allah SWT dan segala kebaikannya di terima oleh Allah SWT.
Semoga pula segala darma baktinya untuk bangsa dan negara dapat mengantarkannya ke alam baqa’ nan tenang.
Dipublikasikan oleh Ikhsan,S.Pd.,M.Pd


Susunan Acara Mengenang 1000 Hari Wafatnya Prof.Dr.K.H. Sjechul Hadi Permono, S.H.,M.A.
1.Pembukaan.
2.Alunan Ayat Suci Al-Quran dengan nada qoror, nada nawa, nada jawab, hidjas, bayyaati suri, bayyaati husaini, Rosh, Nahwan, Jiharka, Siykaah, Nakris, Jawabul jawab, Jinjiran, Khar, Kharkuk, dan lainnya.
3.Pembacaan Yaasiiiiin.
4.Pembacaan Tahlil.
5.Penyampaian Taushiyah.
6.Pembacaan Doa.
7.Buka Bersama.
Alhamdulillah, rangkaian acara tersebut sudah dilakukan dan berjalan dengan khusyu’ dan khidmat. Kesiapan tim aparat kepolisian yang mengawal acara ini sangat diacungi jempol. Berjubel para undangan dengan semangat datang tepat waktu. Taushiyah disampaikan oleh yang terhormat Prof.Dr.K.H. Ridlwan Nashir,M.A. cukup lama dan mengena.Topik yang diangkat oleh Prof.Dr.K.H. Ridlwan Nashir,M.A. seputar kematian yang dikaitkan dengan kehidupan modern di kota metropolis. Para undangan yang hadir dibuat terkesima dan terkagum-kagum oleh Kyai Haji Ridlwan Nashir (mantan Rektor IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA, dan saat ini Guru Besar Pascasarjana IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA). Bagaimana tidak, uraian detail lagi pula lugas dan jelas dibeber oleh Kyai yang satu ini sehingga tak terasa topik yang memakan waktu begitu lama seolah-olah cuma semenit, Subhanallah!!!!
Kalimat-kalimat putih suci seputih kethu (songkok) Kyai Haji Ridlwan Nashir mengalir dari lisan Sang Kyai dengan tegas, jernih, dan sejuk, sehingga himpunan kalimat-kalimatnya dapat menyirami relung batin setiap para undangan. Taushiyah itu semakin memperkuat spirit hidup seisi penghuni ndalem almarhum Kyai Haji Sjechul Hadi Permono.

Isi pokok taushiyahnya sebagai berikut:
INTI TAUSHIYAH SANG KYAI
Prof.Dr.K.H.Ridlwan Nashir,M.A.
(Guru Besar IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA, juga mantan Rektor IAIN SUNAN AMPEL SURABAYA)
Ketika telapak kaki anak adam sudah berhenti menginjak dunia selama-lamanya, maka 4 hal bakal ditanyakan padanya, diantaranya:
1.Al ‘umru (Umur).
Untuk apa umur manusia selagi masih hidup? Sesungguhnya Rasulullah sudah berpesan sebaik-baik umur manusia adalah umur yang panjang dan bermanfaat.
2.Al jismu (Tubuh).
Untuk apa tubuh yang tercipta ini? Untuk berbuat baik ataukah untuk kemaksiatan?
3.Al “ilmu (Ilmu).
Untuk apa ilmu yang sudah didapat dari para ustadz atau kyai?
4.Al maal (Harta Benda).
Darimana saja harta benda didapatkan? Dari jalan halal ataukah haram? Kemana sajakah harta benda dibelanjakan?
Ingatlah, akan datang suatu jaman dimana pada jaman itu manusia kehilangan ma’isyah (mata pencaharian hidup), sehingga di jaman itu manusia beramai-ramai berdusta untuk mendapatkan sesuap nasi, dan berlomba-lomba bersumpah atas nama Allah SWT demi mendapatkan harta dan tahta, maka larilah kalian semua dari jaman itu. Kemana larinya? Tentulah, ke jalan kitabullah (Al Qu’an) dan Sunnatullah (Al Hadiits), karena yang demikian adalah jalan yang diridhoi Allah SWT.
Akan datang pula suatu jaman dimana pada jaman itu manusia berpaling dari para ulama (orang yang tahu berdasarkan Al Qur’an dan Al Hadits) dan dari para fuqoha (orang yang ahli fiqh / hukum islam), sehingga tercabutlah beberapa hal dari jaman itu, diantaranya:
1. Dicabutnya keberkahan rizqi.
2.Dicabutnya kemanfaatan ilmu.
3.Dicabutnya iman hingga ajal tiba.
Diringkas dan dipublikasikan oleh Ikhsan,S.Pd.,M.Pd


DOA UNTUK MAYYIT

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍقَالَ: سَمِعْتُ عَوْفَ بْنَ مَالِكٍ يَقُوْلُ: صَلَّى رَسُوْلُ اللهِ ص عَلَى جَنَازَةٍ فَحَفِظْتُ مِنْ دُعَائِهِ وَ هُوَ يَقُوْلُ: اَللّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَ ارْحَمْهُ وَ عَافِهِ وَ اعْفُ عَنْهُ وَ اَكْرِمْ نُزُلَهُ وَ وَسّعْ مَدْخَلَهُ وَ اغْسِلْهُ بِاْلمَاءِ وَ الثَّلْجِ وَ اْلبَرَدِ وَ نَقّهِ مِنَ اْلخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ اْلاَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ وَ اَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَ اَهْلاً خَيْرًا مِنْ اَهْلِهِ وَ زَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ، وَ اَدْخِلْهُ اْلجَنَّةَ وَ اَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ اْلقَبْرِ (اَوْ مِنْ عَذَابِ النَّارِ). قَالَ: حَتَّى تَمَنَّيْتُ اَنْ اَكُوْنَ اَنَا ذلِكَ اْلمَيّتَ. مسلم ٢: ٦٦٢
Dari Jubair bin Nufair ia berkata : Saya pernah mendengar ‘Auf bin Malik berkata : Rasulullah SAW pernah menyolati jenazah, maka aku hafal dari doanya, beliau membaca Alloohummaghfir lahu warhamhu wa ‘aafihi wa’fu ‘anhu wa akrim nuzulahu wa wassi’ madkholahu, waghsilhu bil maai wats-tsalji, wal barodi, wa naqqihi minal khothooyaa kamaa naqqoitats tsaubal abyadlo minad danas. Wa abdilhu daaron khoiron min daarihi, wa ahlan khoiron min ahlihi, wa zaujan khoiron min zaujihi, wa adkhilhul jannata, wa a’idzhu min ‘adzaabil qobri, (au min ‘adzaabin naar). [Ya Allah, ampunilah dia, kasihanilah dia, berilah ‘afiyat kepadanya, berilah maaf kepadanya, muliakanlah tempat turunnya, luaskanlah tempat masuknya, dan cucilah dia dengan air, salju dan embun. Dan bersihkanlah dia dari kesalahan-kesalahan sebagaimana Engkau telah membersihkan kain yang putih dari kotoran. Dan berilah ganti untuknya rumah yang lebih baik daripada rumahnya, keluarga yang lebih baik daripada keluarganya, dan jodoh yang lebih baik dari jodohnya. Dan masukkanlah dia ke surga, dan lindungilah dia dari siksa qubur (atau dari siksa neraka)]”. ‘Auf berkata, “Sehingga aku membayangkan bahwa akulah mayyit yang dishalati itu”. [HR. Muslim juz 2, halaman 662]

عَنْ عَوْفِ ابْنِ مَالِكٍ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يُصَلّى عَلَى اْلمَيّتِ فَفَهِمْتُ مِنْ صَلاَتِهِ عَلَيْهِ، اَللّهُمَّ اغْفِرْلَهُ وَ ارْحَمْهُ وَاغْسِلْهُ بِاْلبَرَدِ كَمَا يُغْسَلُ الثَّوْبُ. الترمذى ٢: ٢٤٥، و قال: هذا حديث حسن صحيح
Dari ‘Auf bin Malik, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW ketika menyolati jenazah, maka aku paham doa beliau dalam menyolatinya, “Alloohummaghfir lahu warhamhu waghsilhu bilbarodi kamaa yughsaluts tsaubu“. (Ya Allah, ampunilah dia, rahmatilah dia, cucilah dia dengan air embun, sebagaimana pakaian dicuci). [HR.Tirmidzi juz 2, halaman 245, dan ia berkata : Ini hadits hasan shahih]

اَللّهُمَّ اَنْتَ رَبُّهَا وَ اَنْتَ خَلَقْتَهَا وَ اَنْتَ هَدَيْتَهَا ِلـْلاِسْلاَمِ وَ اَنْتَ قَبَضْتَ رُوْحَهَا وَ اَنْتَ اَعْلَمُ بِسِرّهَا وَ عَلاَنِيَتِهَا جِئْنَاكَ شُفَعَاءَ فَاغْفِرْ لَهُ. ابو داود عن ابى هريرة ٣: ٢١٠
Alloohumma anta robbuhaa wa anta kholaqtahaa wa anta hadaitahaa lil islaam, wa anta qobadlta ruuhahaa wa anta a’lamu bisirrihaa wa ‘alaaniyatihaa, ji’naa syufa’aa-a faghfir lahu. (Ya Allah, Engkaulah Tuhannya, Engkau telah menciptakannya, Engkau telah menunjukkannya kepadanya Islam dan Engkau telah mencabut nyawanya, sedang Engkau lebih mengetahui batinnya maupun lahirnya. Ya Allah, kami datang kepada-Mu dengan memohonkan ampunan untuknya, maka ampunilah dia). [HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah juz 3, halaman 210]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: صَلَّى رَسُوْلُ اللهِ ص عَلَى جَنَازَةٍ فَقَالَ: اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِحَيّنَا وَ مَيّتِنَا وَ صَغِيْرِنَا وَ كَبِيْرِنَا وَ ذَكَرِنَا وَ اُنْثَانَا وَ شَاهِدِنَا وَ غَائِبِنَا. اَللّهُمَّ مَنْ اَحْيَيْتَهُ مِنَّا فَاَحْيِهِ عَلَى اْلاِيْماَنِ وَ مَنْ تَوَفَّيْتَهُ مِنَّا فَتَوَفَّهُ عَلَى اْلاِسْلاَمِ. اَللّهُمَّ لاَ تَحْرِمْنَا اَجْرَهُ وَ لاَ تُضِلَّنَا بَعْدَهُ. ابو داود ٣: ٢١٠
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW pernah menyolati jenazah, lalu beliau berdoa Alloohummaghfir lihayyinaa wa mayyitinaa, wa shoghiirinaa wa kabiirinaa, wa dzakarinaa wa untsaanaa, wa syaahidinaa wa ghooibinaa. Alloohumma man ahyaitahu minnaa fa-ahyihi ‘alal iimaan wa man tawaffaitahu minnaa fa-tawaffahu ‘alal islaam. Alloohumma laa tahrimnaa ajrohu walaa tudlillanaa ba’dahu.”. (Ya Allah, ampunilah orang-orang yang hidup diantara kami, dan yang telah mati diantara kami, yang kecil dan yang besar, yang laki-laki maupun yang perempuan, yang hadir dan yang tidak hadir. Ya Allah, siapa yang Engkau hidupkan diantara kami maka hidupkanlah dia dalam iman dan siapa yang Engkau matikan diantara kami, maka matikanlah dia dalam Islam. Ya Allah, janganlah Engkau luputkan kami dari pahalanya dan janganlah Engkau sesatkan kami sesudahnya). [HR. Abu Dawud juz 3, halaman 211]
Ditulis oleh Ikhsan,S.Pd.,M.Pd dari Berbagai Buku Referensi.